Viral! Cerita Gua Misteri di Sumatera Utara yang Belum Kamu Tahu

oleh -

Stasiun Berita – Pernah dengar nama Gua Kembar? Berikut gua yang penuh misteri di Sumatera Utara. Tidak diketahui dimana ujungnya, ada patung-patung serta ritual khusus.
Tidak seperti umumnya desa di wilayahnya, Desa Adin Tengah mempunyai patung-patung batu jadi sisi dari riwayat pendirian desa. Masyarakat sering mengadakan ritual kecil disana, serta sekarang patung-patung itu seakan menyebut pelancong untuk hadir.
Patung-patung itu terpahat pada dinding batu yang ada dekat pintu masuk Gua Kembar, yaitu dua gua dengan pintu masuk yang seperti keduanya. Tempatnya ada di tepian rimba Dusun Tambak Tajoh, Desa Adin Tengah, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, seputar 80 km. dari Medan.
Dari ujung desa, harus berjalan kaki seputar lima belas menit, melalui jalan alami penurunan sampai datang di kolam saluran anak sungai yang jatuhan airnya membuat air terjun mini. Dari sini, lanjut melalui jalan setapak, naik sejauh dua puluh mtr. serta nampaklah deretan patung-patung itu, seperti yang kelihatan, Sabtu (7/9/2019) tempo hari.
Ada sepuluh patung di komplek itu. Sejumlah besar masih berselimut lumut. Patung-patung itu khususnya menggambarkan mengenai figur pendiri kampung atau simantek kuta, serta skema kekerabatan yang berada di desa itu. Patung pertama ialah patung pria yang disebut patung Toga Sembiring Brahmana, sang pendiri desa. Figurnya kelihatan kenakan peci. Di samping kiri patung penting, ada patung ibu serta anaknya, selanjutnya beberapa patung anak.
Tidak sama dengan patung penting yang berkesan kenakan pakaian sebab memakai peci, patung si ibu kelihatan tidak kenakan pakaian. Disamping itu ada banyak patung , relief kapak serta kepala banteng, dan tulisan ‘MEN’ serta tulisan ‘1971’ yang menerangkan waktu pengerjaan patung-patung itu.
Terpisah dari dinding penting, ada banyak patung , persis dibawah mulut gua. Tetapi jati diri kelamin pada patung itu tidak dapat dinyatakan sebab sisi kepala telah hilang. Satu patung di dindin penting juga hilang sisi kepalanya.
Sejarawan Kampus Sumatera Utara (USU) mengatakan, jadi sisi dari riwayat berdirinya desa, karena itu patung-patung batu itu pasti mempunyai daya tarik sendiri. Ditambah lagi tempatnya yang ada di bentang alam yang hijau.
“Ini pasti menarik untuk didatangi. Tidak hanya keadaan alam yang baik, ada gua di sekelilingnya yang masih misteri, sebab disebutkan tembus sampai ke daerah Kabupaten Karo,” kata Suprayetno di tempat.
Disebutkan Suprayetno, bisa saja dulu gua-gua ini adalah jalan migrasi masyarakat dari dataran tinggi Karo ke arah lokasi Langkat ini, terhitung si pendiri desa. Karenanya, dibutuhkan riset selanjutnya untuk memperoleh kejelasan, terhitung kebenaran gua dapat tembus sampai ke Desa Penampen, Kecamatan Tiganderket, Karo.
Ihwal pengerjaan patung-patung batu itu, salah seorang keturunan pendiri desa, Edi Usaharaskita Tarigan (33) mengatakan, salah satunya pembuat patung itu ialah pamannya.
“Paman saya itu dapat membuat gambar atau patung yang benar-benar seperti dengan aslinya. Tidak hanya paman saya, ada banyak orang lain yang membuat patung-patung ini,” kata Tarigan.
Sesudah beberapa puluh tahun, di area patung-patung itu, kadang ada masyarakat yang lakukan ritual kecil, ritual yang berbentuk perseorangan. Menyalakan sebatang rokok ditempatkan pada ranting kayu. Pada saat asap rokok itu meliuk ke atas serta musnah disesap rimba, waktu bertepatan permintaan dikatakan.
Kehadiran sejarawan ke situs desa itu, membuat warga dirundung ketertarikan. Ada keinginan perubahan ekonomi dari kunjungan pelancong. banyak tempat wisata lain yang masih menarik untuk ditingkatkan. Terhitung Gua Kembar yang disebutkan Gua Seribu Lorong, karena sangat jumlahnya cabang lorong di dalamnya.
Gua itu belum dieksplorasi. Keadaannya gelap serta banyak ditempati kelewar. Masyarakat desa menyebutkan gua ini jadi Gua Umang, yang berarti gua hantu. Terdapat beberapa narasi magic yang melingkupinya. (dettikcom)

SANGAT MENARIK!  Fakta Terbaru Misteri di Balik Pantangan Mengucap Kata 'Lada' di Dago Pakar