*SURAT TERBUKA (PENTING) *Yang Terhormat Bapak* *JENDERAL TNI ANDIKA PERKASA (KASAD TNI)*

oleh -

StasiunBerita – Viral greget beredar postingan facebook yang juga banyak di share oleh berbagai nama akun facebook, *SURAT TERBUKA (PENTING)* *Yang Terhormat Bapak* *JENDERAL TNI ANDIKA PERKASA (KASAD TNI).* seperti dibawah ini;

*SURAT TERBUKA (PENTING)*
*Yang Terhormat Bapak*
*JENDERAL TNI ANDIKA PERKASA (KASAD TNI).*

*Pak Andika*, sebelumnya ijinkan saya untuk memperkenalkan diri, saya
adalah *Kanjeng Senopati*. Saya bukan siapa-siapa. Kebetulan saya dari
keluarga Kasunanan Surakarta Hadiningrat Mataram dari Trah Pakubuwono X.
Darah saya telah mengalir pejuang dan nasionalisme dari para leluhur
kami. Saya dari keluarga besar ABRI TNI Bapak dan ibu saya dua-duanya
adalah Perwira TNI AD berpangkat Kolonel.

Saya mantan Komando
Paskhas Laskar Jihad dan Kepala Diklat Paskhas Laskar Jihad Ahlus Sunnah
Wal Jama’ah. Yang anggotanya menyebar diseluruh Indonesia. Adalah
organisasi Sipil atau Milisi Sipil Bersenjata resmi (Para Militer) yang
memiliki pengalaman dalam operasi tempur dan militer di wilayah
Indonesia timur.

Dahulu diakui Paskhas Laskar Jihad Ahlus Sunnah
seperti mitra TNI POLRI dalam membantu TNI POLRI untuk membantu operasi
penumpasan Separatis RMS Ambon dan Poso. Sehingga TNI POLRI dalam
operasinya tidak terkena sanksi HAM karena bersama dengan Laskar Jihad.

Itulah salah satu strategi agar TNI POLRI aman tidak terciduk HAM. Dan
sekarang Laskar Jihad (LJ) sedang mencair (tidak eksis). Namun bila
diperlukan suatu saat LJ bisa saja saya munculkan kembali ke permukaan.

loading...

Laskar Jihad dibawah pimpinan Panglima Laskar Jihad almarhum Ustadz
Ja’far Umar Tholib adalah guru saya dan saya adalah ajudan beliau saat
di medan operasi. Beliau adalah sahabat dekat dengan Bapak Hendropryono,
pak Hendro dulu pernah menghibahkan tanahnya untuk pondok Ustdaz Ja’far
di Jogja.

Dulu pemerintah dan TNI POLRI sangat berterimakasih
dan terbantu oleh keberadaan Paskhas Laskar Jihad dalam membantu tugas
TNI Polri menghancurkan kelompok separatis. Pasuan kami terbiasa
bergerak dengan cepat, tidak lebih dari 3 tahun gerakan Separatisme
Ambon Poso dapat kami padamkan.

Saya hanya Ingin menyampaikan pesan dan nasihat yang baik dan bijak.
Karena mungkin suara saya mewakili sebagian atau seluruh rakyat dan
juga mewakili suara dari berbagai keraton dan kerajaan Nusantara di
Indonesia. Karena kami sering mengadakan pertemuan silaturahmi trah
raja-raja nusantara.

Karena yang saya tau hanya bapaklah
diantara petinggi TNI yang diharapkan yang semoga masih bersikap
bijaksana dapat mendengar suara hati nurani kami dan aspirasi suara
rakyat.

Terimakasih pak Andika karena sampai hari-hari ini TNI
masih dipercaya oleh rakyat. Rakyat semakin bertambah cinta dan simpati
dengan TNI, mohon dipertahankan sikap yang ramah dan simpatik dari TNI.
Tolong pertahankan jalinan yang indah ini antara TNI dan rakyat sampai
saat ini, Bravo TNI..!

Karena rakyat kemana lagi akan meminta
perlindungan dan keamanan kalau bukan kepada TNI. Karena itu tetap
jagalah suara hati nurani rakyat dan aspirasi rakyat karena rakyat yakin
TNI akan selalu bersama rakyat dan selalu membela kepentingan
rakyatnya.

*Pak Kasad* yang saya tahu TNI adalah institusi asset
milik rakyat, pengayom rakyat, membangun bersama rakyat dan bekerja
untuk kepentingan rakyat.

Oleh karena TNI adalah termasuk asset
termahal milik rakyat dan milik Negara dan TNI itu bukan asset
segelintir penguasa. Tugas TNI hanya untuk melindungi kepentingan rakyat
dan kepentingan bangsa dan negara itu lah yang nomer SATU.

Kasad, ketahuilah saat ini nama TNI sudah harum bagaikan bunga kusuma
yang wangi karena TNI benar-benar komitmen independen netral dilapangan
sebagai alat Negara untuk melindungi mengayomi rakyatnya dan ini telah
terbukti di berbagai kasus aksi-aksi rakyat dan mahasiswa, maka
dijagalah jangan sampai dihianati pak.

Saya mengharapkan dari
sebelah coklat (Polri) juga bisa bersikap demikian seperti TNI saat ini.
Tapi untuk saat ini masih jauh dari harapan.

*Pak Kasad*,
kemuliaan dan kewibawaan TNI akan semakin jelas terlihat apabila TNI di
jadikan sebagai Alat Negara dan bukan sebagai Alat Penguasa.
TNI
memang ditakdirkan sebagai pembantu untuk menjadi Abdi Dalem Negara dan
bukan untuk menjadi pembantu Abdi Dalem Penguasa (presiden)..

SANGAT MENARIK!  Viral Heboh!, Curhat Gadis Cantik Tanpa Kaki Dilarang Masuk ke Kantor Pemerintah Karena Tak Pakai Celana Panjang

Masalah nanti apakah jadi pelantikan atau tidak itu adalah urusan
politik bukan urusan TNI. Biarkan rakyat, mahasiswa dan DPR ribut soal
presiden. Peran TNI kawal saja negara agar NKRI aman dari kelompok
separatis yang ingin lepas dari NKRI itu tugas TNI yang *UTAMA*.

*Pak Kasad*, ketahuilah siapapun presidennya dan siapapun penguasanya
anda tetap TNI yang memiliki peluru yang memiliki senjata dan memiliki
pasukan angkatan perang bersenjata.

*Pak Kasad*, TNI harus bersama rakyat dan kawal rakyat itu hukumnya sudah Fardhu a’in..
*Pak Kasad*, TNI masih dapat hidup walaupun tanpa presiden..
Tapi TNI tak akan dapat hidup bila tanpa rakyat.
Dan keberadaan rakyat adalah sebagai balance penyeimbang dan pengontrol
kebijakan-kebijakan pemerintah. Apa jadinya jika suara HATI NURANI
rakyat dibelenggu dan dikebiri maka siapa lagi yang bisa mengontrol
pemerintah?

*Pak Kasad*, tolong dengar suara kami karena mungkin
saya mewakili dari rakyat dan suara orang-orang yang tidak berani
bersuara kepada bapak..

*Pak Andika*, rakyat berharap TNI masih
bisa mengayomi rakyat, setelah Pak Polisi terbukti ‘gagal’ menjalankan
fungsinya sebagai pengayom sipil.

Ini ada contoh kasus yang
sangat miris seluruh rakyat mendengarnya mirisnya adalah hukuman yang
dialami oleh dua orang perwira TNI AD beserta kedua istri-istrinya.
Karena permasalahan istri mereka mem-posting dan mengkomen soal
penusukan Menko Polhukam Wiranto di medsos.

Yang saya sayangkan
sekali hukumannya pun double. Selain dicabut dari jabatan, dua anggota
TNI berpangkat Kolonel dan Sersan ini juga disanksi sel 14 hari.

Bahkan, tidak puas lagi dengan sanksi internal itu saja, si istri IPDN
yang merupakan istri Dandim Kendari Kolonel HS dan LZ istri Sersan Dua
berinisial Z juga di seret ke ranah peradilan umum, sampai begitunya
kah, hanya memberikan komen tulisan karena dari suara hati NURANINYA?

Saya sebagai orang Civil diluar yang tidak terikat dengan institusi TNI
mau bertanya, Apakah seperti ini sikap komandan terhadap anak buahnya ?

Mendengar kasus yang sebenarnya bukan kasus berat langsung dibekuk
tanpa pertimbangan kejiwaan, harga diri dan loyalitas seorang prajurit
atau bawahan.

*Pak Kasad*, memang walaupun itu salah. Tapi yang
saya tau dan saya pelajari seorang Komandan sedapat mungkin dapat
melindungi marwah anggotanya.

Sebijak-bijaknya hukuman kalau
hanya masalah komen kasus “komen” penusukan Wiranto sanksinya adalah
dengan memberi tahapan sanksi (peringatan pertama) seperti arahan dan
pembinaan, jika dilakukan lagi dengan diberi peringatan kedua dstnya..
Bukan langsung copot, di sel, istrinya di seret ke pengadilan umum.

Apa yang mau dipertontonkan dan diambil nilai positif dari peristiwa ini? Apakah supaya terkesan tegas begitukah?

Akhirnya institusi Komandan digambarkan hanya sebagai penebar teror
kepada seluruh korps TNI dan istri-istrinya dan keluarganya. inilah
keadaan psikologi keluarga TNI yang terjadi di lapangan saat ini dan
kondisi ini memperihatinkan.

Dimana rasa empati dan simpati
mereka kepada bapak berkurang drastis. Intinya agar keluarga TNI itu
menutup mulut, menutup mata dan masa bodoh atas semua “keanehan” di
negeri ini ? Lantas, jika urusan “beda suara dan pendapat” saja dikenai
sanksi berat. Bagaimana ini, katanya ini negara demokrasi?

Lalu
bagaimana dengan kondisi di kasus separatisme di Papua ? Para pembantai
umat Islam dan pendatang tidak ditindak tegas dibiarkan saja sampai hari
ini. Lalu apa tidak cukup alasan untuk dicopot petinggi AD disana,
karena dipandang ‘gagal’ mengamankan wilayah?

*Pak Kasad,* harus
mengetahui bahwa telah terjadi Stereotype buruk jenderal-jenderal
pensiunan seputar istana di pandangan kalangan penghuni tangsi militer
di seluruh Indonesia.

Kalau saya boleh jujur sesungguhnya mereka
tidak ada rasa simpatik terhadap Jenderal Wiranto, Jenderal Luhut,
Jenderal Hendropriyono, Jenderal Moeldoko dan jenderal-jenderal
pensiunan lainnya, itu harus diakui pak. Tapi mereka lebih memuji dan
simpatik kepada Jenderal Prabowo, Jenderal Joko Santoso, Jenderal Kivlan
Zein dan Jenderal Sunarko.

SANGAT MENARIK!  Massa Aksi Serahkan Berkas Bukti-bukti Dugaan Korupsi Kab.Muratara ke Kejati Sumsel

Semakin tokoh-tokoh itu ditangkap
maka semakin meledak dan kuat rasa peduli dan simpati mereka, bahkan
telah membangkitkan jiwa Korsa mereka.

Ingat Pak Kasad, para
penghuni tangsi militer diseluruh wilayah Indonesia semakin antipati
dengan Jokowi manakala Sunarko, mantan Danjen Kopassus ditangkap atas
tuduhan makar yang harusnya cuma sebagai Saksi malah dijadikan sebagai
Tersangka. Ketika dia ditangkap, Danjen Kopassus ini bahkan sampai
mengeluarkan peringatan agar seluruh anggota Kopassus yang siap bergerak
itu tetap berada didalam asrama pasukan.

Untuk meredam gejolak
di TNI, maka sejumlah pensiunan jenderal yang jadi menteri menjadi
penjamin Sunarko dan Tito Karnivan akhirnya melepaskan dia dari tahanan.
ini sudah *“WARNING”* pertama bapak..

Pak Kasad harus mengakui bahwa antipati sebagian besar penghuni seluruh
tangsi tentara TNI terhadap Jokowi berlangsung sampai sekarang. Namun
tidak sampai ke permukaan.

Tapi perasaan itu seperti bara terpendam yang langsung bisa menjadi api berkobar-kobar ketika ada pemantiknya.

Dengan adanya kasus pencopotan Dandim dan istrinya diseret ke
pengadilan umum inilah justeru yang menjadi pemantiknya kembali ke
permukaan. Justeru memunculkan rasa simpatik, kepedulian seluruh rakyat
Indonesia (tidak kalangan tangsi TNI saja) dan kedua pasang suami istri
TNI itu malah kebanjiran tag dukungan simpatik dari jutaan para
netizen..

*Pak Kasad*, mungkin Panglima TNI saja yang tak paham
tupoksi TNI karena berdeklamasi hanya untuk melindungi kepentingan
penguasa (Pak Jokowi). Berarti untuk TNI tingkat level keatas sudah
tidak sesuai dengan SOP pasti ada yang keliru disini.

Saya sudah
wanti-wanti dan ingatkan berkali-kali, TNI ITU MILIK RAKYAT bukan milik
segelintir penguasa (Jokowi). Jika TNI menjadi Alat penguasa maka
jadinya ya seperti ini pak.

Harus diakui kecurigaan mereka
adanya keterpihakan petinggi TNI adanya “hubungan gelap”
(perselingkuhan) antara para petinggi TNI dengan kepentingan Penguasa
itu sudah menjadi rahasia umum.

Saya ingat pak pesan Panglima
Sudirman, “TNI itu mudah menjadi Alat kekuasaan (bekerja untuk
kepentingan penguasa) tapi tergantung bagaimana hati pemimpin TNI nya
itu sendiri disaat itu..”

TNI itu alat negara bukan alat
kekuasaan ini adalah ucapan Panglima besar TNI Jenderal Sudirman, jangan
sampai ada petinggi TNI sendiri yang menghinati ini.

Kasus
pemberian SANKSI yang berat dan bertubi-tubi kepada ke dua pasang suami
istri ini sebenarnya justeru malah semakin membuka mempertontonkan jati
diri sendiri pak.

Lantas, jika model penindakan sanksi
semena-mena anggota seperti ini apa Pak Kasad akan semakin dicintai
bawahan dan para perajuritnya semakin simpatik begitukah?

Ingat
pak Kasad, perintah komando anda tak akan berjalan baik jika tidak
didukung penuh oleh para petinggi di kesatuan pasukan dan Komando di
Komando Daerah Militer (KODAM) seluruh wilayah Indonesia.

Prajurit TNI juga punya hati nurani loh pak.. Jangan diabaikan yang satu
ini. Bagaimana mungkin kita bisa mengambil simpatik dan dicinta mereka
kalau kita sendiri tidak melindungi marwah para bawahannya.
Karena Sebaik-baiknya komandan itu adalah yang dicintai oleh para perajuritnya, pasukannya dan bawahannya.
Sang Komandan yang terbaik itu yang peka, memperhatikan, melindungi dan sampai urusan keperluan para bawahannya.
Maka ambilah hati mereka dengan sikap simpatik, persuasive, melindungi dan mengayomi mereka.
*Pak Kasad,* harus mengakui pula bahwa suasana kebatinan hati TNI dan
istri-istrinya itu saat ini sama dengan suasana hati rakyat dan itu
normal dan sah-sah saja, tidak bisa disalah-salahkan itu HAK ASASI
Manusia, harus DIAKUI itu.
Kalau terasa ada yang salah pasti
mereka juga ikut merasakan. Kaum emak termasuk istri TNI itu juga
manusia biasa, mereka juga termasuk masih satu korps satu keluarga
dengan istri bapak juga yang memiliki pikiran dan perasaan. Wajar saja
mereka wanita bersuara dengan hatinya pak atas adanya “anomaly” dan para
“Trouble Maker” yang sudah berkeliaran bebas didalam pemerintahan untuk
merusak negeri ini.
Langkah bapak sebagai petinggi TNI dalam
menghukum para suaminya mungkin sudah tepat. Tapi melempar para
istri-istrinya dituntut dan diseret ke pengeadilan umum berurusan dengan
polisi rasanya berlebihan, coba untuk dipertimbangkan lagi. Bahkan bisa
menimbulkan masalah baru yang mungkin bapak sendiri akhirnya tidak
dapat menghadapinya.
Kalaupun itu melanggar, berilah sanksi
pertama cukup dipanggil secara khusus, ditegur, dibina dan diingatkan.
Tidak langsung copot jabatan suami, penjarakan suami, dan tuntut
emak-emak istri TNI ke peradilan umum, ini saya melihat tidak BIJAKSANA
dalam menjatuhkan sanksi.
Juga saya mendengar ada yang seenaknya
menuding para istri tentara terpapar radikalisme ini adalah tindakan
berlebihan. Mempolisikan atau bahkan sampai memenjarakan mereka juga
tidak bijak. Bagaimanapun, mereka sudah dihukum secara kedinasan yang
berakibat permanen pada kehidupan internal mereka dan ototmatis sudah
mempengaruhi kesejahteraan mereka selanjutnya.
Hukuman itu sudah
teramat berat bagi mereka. Yang hanya bisa dirasakan oleh penghuni
tangsi tentara manakala ada tetangganya yang disingkirkan dari
jabatannya.
*Pak Kasad,* jika sebagai pemimpin banyak-banyak
ambilah ibroh pelajaran yang terbaik dari para Salafuhum (pendahulunya)
yang terbaik dari kakak senior bapak yang menahan diri dan sangat
bijaksana dalam memberikan sanksi kesalahan-kesalahan anak buahnya.
Dengan cara yang lebih persuasive bukan dengan cara terdzolimi seperti
itu.
*Pak Kasad,* mereka juga walaupun TNI memiliki hati. Saya
kuatir sikap dan tindakan pak Kasad yang menjalankan sanksi inginnya
tegas tapi dengan penerapan “sakleg” kaku seperti itu tanpa disadari
akan semakin berakumulasi kepada keburukan anggota dan itu membuat bola
es buat bapak sendiri yang endingnya pasti tidak enak buat bapak
sendiri.
Kalau orang disanksi salah karena keriminal, asusila dan
kondite itu akan terima. Tapi kalau disanksi karena tendensi, disanksi
karena politik, disanksi karena ingin menyuarakan nurani, itu bahaya Pak
Kasad.
Saya melihat kedepan ada dua titian jalan dimana nantinya TNI akan semakin kuat, berwibawa dan disegani bila bersama Rakyat..
Dan sebaliknya TNI akan semakin lemah tidak memiliki kekuatan dan wibawa apa-apa bila bersama kekuasaan (penguasa)..
*Pak Andika,* ada pesan yang penuh hikmah mohon kiranya pesan Panglima
Besar TNI Jenderal Sudirman diingat dan diwujudkan bapak sebagai
petinggi TNI :
*“Walaupun negara hiruk pikuk Politik maka satu-satunya milik Bangsa dan Rakyat yang tetap utuh adalah TNI..!”*
Tolong dijaga hak-hak aspirasi hati nurani rakyat, dijaga Harta dan Keluarganya jangan sampai terdzolimi..
Dan tolong dijaga Harta dan Darah mereka jangan sampai ditumpahkan..
Dan saya Kanjeng Senopati hanya berpesan,
*Pak Andika..*
BAJU, PANGKAT dan TANDA JASA yang anda pakai suatu saat akan lepas dan kembali
Bapak masih muda dan pergantian masih banyak waktu
Berpihaklah kepada kepentingan bangsa dan rakyatnya sendiri
sebelum Terlambat,
In Syaa Allaah Rakyat dan Bumi Pertiwi
akan mendukungmu..
Bukan berpihak kepada kepentingan Penguasa
Karena mau cepat atau lambat REZIM pun PASTI akan berganti..
Bapak masih bisa Hidup walaupun REZIM sudah mati
Tapi Bapak tidak akan bisa hidup kalau rakyat sudah MENINGGALKANMU..
Jauhilah Pintu-Pintu Penguasa Istana karena menjadikan anda Lupa dan jauh dari Hati NURANI..
Banyak sekali penawaran-penawaran HARTA dan KEKUASAAN padahal itu
hakekatnya Kamuflase dan Fatamorgana karena itulah tipuan-tipuan Kaum
MERAH (Liberal dan KBG Komunis Gaya Baru)
BERJANJILAH Demi Kepentingan Bangsa, Negara dan kepentingan Rakyat Indonesia.
Karena wujud dan Pembuktian dari *SUMPAH PRAJURIT* dan *SAPTA MARGA* adalah
*TNI adalah sebagai Alat Negara Mengabdi Untuk Kepentingan Rakyat.*
*TNI bukan Alat Kekuasaan untuk Kepentingan Penguasa..*
Semoga Pak Andika mengerti Pesan-Pesan Spritual saya, karena saya menulis ini dengan pandangan batin..
HATI-HATI dalam membawa-bawa negeri Indonesia ini.. Semoga Bapak selalu
dalam perlindungan dan penjagaan Allah Subhanahu wa ta’ala
Barakallohu fiikum..
*Kanjeng Senopati (KRMH. Tommy Wibowo Windraningrat. SE)*

No More Posts Available.

No more pages to load.