Sosok Ir. Sutami ‘MENTERI TERMISKIN Di BUMI’, “Segudang Karya Hebat Dan Bersih Dari Korupsi”

oleh -624 views

Karya Hebat
Segudang dan Bersih dari Korupsi, Ir Sutami Malah Jadi Menteri Termiskin

JAKARTA, StasiunBerita – Meski KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi) sudah beroperasi sejak tahun 2002, namun hiruk-pikuk tindak
korupsi dan penggarongan uang rakyat oleh anak bangsa sendiri hingga
saat ini masih terjadi. Alih-alih mereda, eksistensi KPK yang diharapkan
bisa memberantas korupsi dalam waktu cepat malah kian sibuk menangkapi
pejabat yang menggarong uang rakyat.
Mulai
dari mantan menteri, anggota DPR RI, gubernur, wali kota-bupati hingga
hakim, KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) malah makin merebak dan
meradang. Padahal, sudah sepatutnya para pejabat dan tokoh masyarakat
tersebut bisa dijadikan tauladan. Namun sayang, malah banyak dari mereka
yang menjadi penghuni penjara.
Melihat
korupsi seakan tak pernah berhenti dan semakin menggurita, rasanya kita
harus malu dan bertauladan pada tokoh satu ini. Ditukil dari laporan Banjarmasin Post (TribunNews.com),
Senin (12/11/2018), sosok yang pernah menjabat sebagai menteri selama
14 tahun ini hidup bersahaja. Namun karya-karyanya yang monumental itu
sangat berfungsi bagi generasi masa kini. Sosok tersebut tak lain adalah
(Alm) Ir Sutami.
Ir Sutami menjabat Menteri Pekerjaan
Umum di era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Hidupnya jauh dari
kesan kaya. Bahkan, Ir Sutami layak dijuluki menteri termiskin lantaran
saat tidak menjabat lagi sebagai menteri. Karena untuk berobat pun dia
mengalami kesulitan biaya.
Hidup Sederhana
Kesederhanaan
Ir Sutami bisa menjadi contoh para pejabat yang kini banyak tersangkut
kasus korupsi. Saking sederhananya, atap rumah Ir Sutami bocor. Bocornya
rumah Ir Sutami ditulis oleh Staf Ahli Menteri PU, Hendropranoto Suselo
dalam Edisi Khusus 20 tahun Majalah Prisma yang diterbitkan LP3ES tahun
1991 di Jakarta.
Saat itu, Ir Sutami masih menjabat sebagai Menteri PU dan Tenaga
Listrik. Saat Lebaran, rumah Ir Sutami ramai dikunjungi tamu. Tapi tamu
yang datang malah terkaget-kaget. Mereka melihat ke atap dan banyak
bekas bocor pada langit-langit rumahnya. Rupanya sudah lama rumah Sutami
bocor. Padahal Sutami sudah enam kali menjabat sebagai Menteri
Pekerjaan Umum.
Mirisnya, proyek raksasa seperti Gedung DPR, Jembatan Semanggi, dan
Waduk Jatiluhur telah dengan sukses dibangun di bawah pengawasannya.
Sutami pulalah yang memimpin proyek pembangunan Bandara Ngurah Rai.
Menteri ini sama sekali tak pernah
bermewah-mewahan. Bahkan rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat
dibeli dengan cara menyicil. Barulah saat akan pensiun, rumah itu lunas.
Sutami
yang bersahaja itu pun tak pernah mau memanfaatkan fasilitas negara
secara berlebihan. Saat lengser tahun 1978, dia mengembalikan semua
fasilitas negara. Kemudian seorang pengusaha berniat memberinya mobil.
Pengusaha itu tahu mobil dinas Sutami ikut dikembalikan. Tapi dengan
halus Sutami menolak. Dia hanya minta diberi sedikit diskon saja dari
pengusaha itu.
Sutami tak pernah tergoda untuk korupsi.
Penampilan dan tindakannya tetap bersahaja. Bahkan, suatu
ketika PLN pernah mencabut listrik di rumah pribadinya di Solo. Mirisnya
lagi, Menteri Sutami ternyata pernah kekurangan uang hingga telat bayar
listrik.
Yang tak kalah bikin sedih,
Sutami juga sempat takut dirawat di rumah sakit. Ternyata ia tak punya
uang untuk bayar rumah sakit. Barulah setelah pemerintah turun tangan,
Sutami mau juga diopname.
Catatan sejarah menyebutkan,
Presiden Soeharto kerap menjenguk Sutami saat sakit. Soeharto pula yang
meminta Sutami mau berobat ke luar negeri. Ir Sutami menutup usia pada
13 November 1980, di umur yang masih relatif muda—52 tahun, karena
menderita sakit liver.
Tanggal 16
Desember 1981, Presiden Soeharto saat meresmikan Bendungan Karangkates,
Sumberpucung, Kabupaten Malang, kemudian membacakan pidato
penghormatannya untuk Sutami. Dia pun memberi nama Bendungan Karangkates
sebagai nama Bendungan Sutami.
Monumental Yang Fenomenal
Menteri
yang lahir 19 Oktober 1928 ini ialah menteri termuda yang dipercaya
Presiden Soekarno saat berusia 36 tahun. Tepatnya pada tahun 1964, Ir
Sutami bergabung pada Kabinet Dwikora I sebagai Menteri Negara
diperbantukan pada Menteri Koordinator Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk
urusan penilaian konstruksi.
Saat
kekuasaaan Soekarno beralih ke Soeharto tahun 1966, Ir Sutami tetap
dipercaya menjadi menteri Pekerjaan Umum hingga tahun 1978. Ia merupakan
Menteri Pekerjaan Umum terlama di era Soeharto dengan masa jabatan
selama 12 tahun dan dua tahun di era Soekarno.
Di tangan Ir Sutami, terbangun jembatan
Semanggi Jakarta yang hingga kini menjadi salah satu ikon Ibukota.
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Yusmada Faizal Samad bahkan
menyebut Jembatan Semanggi sebagai karya konstruksi sipil yang
fenomenal.
“Suatu struktur konstruksi
jembatan panjang (60 meter tanpa penyangga) di Indonesia untuk pertama
kali menerapkan teknologi prestressed concrete,” tulis Yusmada seperti
dikutip Kompas Properti.

Penerapan teknologi prestressed concrete
saat itu memang sempat menuai pendapat pro dan kontra, serta diskursus
di tataran akademik. Pasalnya, kekuatan dan keandalan struktur jembatan
tersebut masih dipertanyakan. Namun keraguan pun terjawab saat
Presiden Soekarno meresmikan jembatan itu pada tahun 1962.
Waktu itu, Ir Sutami sebagai penanggungjawab pembangunan Jembatan Semanggi melakukan aksi ‘heroik’. Mengendarai sebuah jeep,
Ir Sutami menuju ke tengah bentang untuk membuktikan struktur jembatan
itu kuat. Soekarno pun dikabarkan sangat puas dan bangga dengan
kehabatan Ir Sutami muda saat itu.
Sejak itulah karya monumental Ir Sutami
tak hanya Jembatan Semanggi. Kubah Gedung MPR/DPR berwarna hijau seperti
kura-kura juga menjadi bukti kehebatan Ir Sutami. Kompleks MPR/DPR itu
merupakan hasil rancangan arsitek lulusan Berlin, Soejoedi Wirjoatmodjo,
dan salah satu stafnya yang bernama Ir Nurpontjo.
Kompleks itu dibangun untuk menggelar Conference of the New Emerging Force (Conefo),
dan bangunannya harus bisa menandingi gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) di New York. Konferensi itu guna menggalang kekuatan di kalangan
negara-negara baru untuk membentuk tatanan dunia baru.
Pemancangan tiang pertama pembangunan kompleks Conefo
itu dilakukan pada 19 April 1965. Padahal konferensi internasional
sudah harus digelar setahun kemudian. Sebagai pelaksana lapangan, Ir
Sutami menyanggupi pembangunan kompleks itu dalam tempo setahun.
Atap
gedung ini mirip dengan prinsip struktur sayap. Awalnya, atap akan
berbentuk kubah murni. Namun Sutami selaku ahli struktur bangunan
mengingatkan hal itu akan memunculkan masalah serius. Sebab, hal ini
menyangkut pemerataan penyaluran beban gaya vertikal ke tiang-tiang
penopang kubah.
Sutami kemudian membuat sketsa dan
perhitungan teknisnya. Dia menjamin kubah semacam itu bisa dikerjakan.
Sebab, desain itu tak berbeda dengan prinsip struktur kantilever pada
pesawat terbang.
Keberhasilan Sutami
sebagai pelaksana proyek dan juga turut andil dalam merealisasi atap
berbentuk kubah mengundang pujian dari gurunya semasa di ITB, Ir
Roosseno. Ahli beton itu mengakui gedung Conefo sebagai karya besar Sutami.
Ir
Sutami juga menjadi pimpinan pusat proyek pembangunan Jembatan Ampera
di Sungai Musi, yang kini menjadi kebanggan masyarakat Sumatera Selatan.
Ketika Proyek Listrik Tenaga Air di Maninjau, Sumatra Barat yang
diperkirakan tak akan bisa dibuat akhirnya berhasil, hal itu juga
diketahui sukses diwujudkan berkat tangan dingin Ir Sutami.
‘Tukang
insinyur’ ini juga tercatat ikut serta dalam membidani lahirnya
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, serta munculnya dan beroperasinya
jalan tol yang sekarang dikenal sebagai tol Jagorawi. Sutami juga
sukses membangun Waduk Jatiluhur dan memimpin proyek pembangunan Bandara
Ngurah Rai Bali yang berdiri megah sampai saat ini. [suratkabar.id]

No More Posts Available.

No more pages to load.