Skenario Cukong China Menjadikan Pribumi Kuli dan Jongos

oleh -

“Ahok kini diangkat jadi komisaris utama Pertamina dengan gaji Rp 3,2 miliar per bulan/ tribun-timur.com”
Sabtu, 23 November 2019 09:41

 
StasiunBerita –  Orang-orang
non pribumi etnis Cina sekarang telah menguasai hampir seluruh aset
ekonomi Indonesia. Bahkan, boleh dikata mereka sudah menguasai Indonesia
dari Sabang sampai Marauke.
Pasca
kepemimpinan Soekarno, non pribumi etnis Cina selalu mendapat banyak
kemudahan dari perbankan. Ujung-ujungnya, mereka memeras rakyak dengan
cara menaikkan harga dagangannya, demi mendapatkan keuntungan
berlipat-lipat, sehingga membuat rakyat bangkrut dan menjadi kere.

Di
jaman Presiden Abdurrahman Wahid, orang-orang etnis Cina di Indonesia
mendapat ‘berkah’. Eksistensi mereka mulai mendapat pengakuan secara
politik dengan dilegalkannya agama Kong Huchu menjadi agama resmi di
Indonesia.

“Ini
seperti membuka kotak pandora setelah lama tertutup dengan PP 10 tahun
1959,” kata Bambang Smit, Ketua Umum Gerakan Pribumi Bersatu di Roemah
Priboemi, Jalan Pejambon 1, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2015).

Sejak
itu, kata Smit, kebobrokan dan kehancuran moral dan sosial selalu
dipertontonkan oleh orang-orang etnis Cina. Seperti kebiasaan menyuap
dan menyogok pejabat pemerintah, minum minuman keras, narkoba, seks
bebas. Baca Etnis Cina Dalang Kerusakan Moral Bangsa
Smit
mencontohkan orang-orang etnis Cina yang melakukan penjajahan ekonomi
bagi bangsa Indonesia semakin nyata. “Fakta-fakta menunjukkan semua mal
di setiap kota di Indonesia hampir 100 persen milik orang Cina. Importir
barang barang kebutuhan pokok (Beras, Gula, Daging, Kedelai) juga orang
Cina. Eksportir hasil bumi keluar negeri adalah orang Cina. Pemilik
toko dan tengkulak di desa desa juga orang Cina. Pemilik pabrik pabrik
dan pengusaha besar orang Cina. Pendukung semua presiden sejak jaman
Suharto, Habibie, Gusdur, Megawati, SBY dan Jokowi di belakangnya
pengusaha cina yang menjadi dalang ekonominya.
Media cetak dan elektronik (TV) sebagian milik orang Cina. Artis dan pembawa acara di televise sudah banyak orang Cina. Koruptor
kelas kakap yang tertangkap KPK umumnya Cina yang menyuap para pejabat.
Pengemplang BLBI Rp 650 triliun yang lari ke Singapura juga orang Cina.
Daerah daerah di Jakarta seperti Jakarta Barat, Jakarta Utara dan
sebagian Jakarta Pusat saat ini sudah dikuasai orang Cina, sementara warga pribumi termasuk Betawi sudah tersingkir ke daerah daerah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok dan Tanggerang. Perkantoran
di gedung gedung  mayoritas di Jalan Thamrin, Sudirman, Kuningan, juga
miliki Cina dan karyawannya pun Cina. Toko toko Elektronik, onderdil
motor dan bengkel, toko matrial bangunan dan distributor bahan pokok
juga umumnya orang Cina,” kata Smit.
Menariknya,
lanjut Smit, saat ini sudah banyak etnis Cina yang terjun menjadi
pegawai negeri. Mereka selalu melakukan kecurangan dan mementingkan
kelompoknya. Biasanya mereka menjadi pegawai negeri karena memiliki keahlian tertentu seperti dokter, tenaga teknis, dan lainnya.
“Seluruh
lini strategis kini telah dikuasai. Berikutnya, tentu masuk ke dunia
politik di mana mereka mulai menentukan arah kebijakan bangsa ini,” urainya.
Terbukti,
kini mereka mulai melakukan dukungan materi para kandidiat legislatif,
menjadi cukong pejabat yang masih aktif ataupun mencoba menjadi kepala
daerah.

Smit
mencontohkan, yang paling mencolok adalah sepak terjang Gubernur DKI
Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Lulusan jurusan Geologi Universitas
Trisakti ini menjadi anggota legislatif dan bupati di daerah mayoritas
Cina (Bangka Belitung). Termasuk di Kalimantan Barat, gubernurnya juga orang Cina.
Tak hanya itu, saat ini kekuatan Cina internasional juga mendorong agar etnis-etnis mereka menguasai perpolitikan Indonesia. Baca Pencoblos Siluman Berkeliaran, Waspadai Bahaya Aseng
“Skenario
‘cukong’ Cina ini sangat mengerikan. Mereka malah menggunakan
media-media untuk diarahkan ke sekuler. Sehingga pribumi sulit untuk
melakukan perlawanan. Sekali melawan mereka akan dituding melakukan
gerakan SARA. 
Banyak orang merasa tabu
membicarakan pribumi-non pribumi, Cina non-Cina karena takut disebut
sentimen terhadap isu SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).
Padahal
mendiskusikan isu ini justru dengan tujuan meredam atau mencegah
terjadinya kerusuhan dan perpecahan bernuansa SARA dalam bangsa
Indonesia adalah tujuan mulia agar non pribumi tidak kurang ajar.
Pribumi dan non pribumi (etnis Cina) adalah sebuah realitas sosiologis
yang tidak bisa dibantah. Dimana perbedaan tingkat ekonomi telah
menimbulkan kesenjangan sosial dan ekonomi yang pada akhirnya dapat
menimbulkan kecemburuan sosial yang dapat berujung pada perpecahan.
Kerusuhan Mei 1998 adalah sebuah pelajaran yang tidak boleh terulang,”
ujarnya.

Dan
kini, fakta terungkap DKI Jakarta menjadi korban skenario cukong Cina.
“Ibukota dan pusat ekonomi ini jatuh ke tangan orang-orang Cina.
Nantinya pasti akan disulap menjadi Singapura,” tuding Smit.

Strategi politik jangka panjang berikutnya adalah menguasai seluruh Indonesia Raya. Indonesia dipimpin oleh orang Cina.
“Munculnya
Hary Tanoe dengan mesin politiknya (Perindo) seperti mengisyaratkan
sebuah kekuatan baru untuk merongrong kedaulatan pribumi di nusantara,”
kata Smit.
Setelah
sukses menggenggam 80 persen asset ekonomi Indonesia, imbuhnya, tentu
bagian akhir mereka adalah masuk ke ranah  politik dengan pengusaaan
terhadap Indonesia.

“Tujuannya menjadikan bangsa Indonesia atau kaum pribumi sebagai “kuli dan jongos” di negerinya sendiri,” ujar Smit.
“Sudah
saatnya keturunan Majapahit ambil bagian dalam pembenahan nuswantoro
(nusantara) yang telah rusak karena dirusak. Lebih baik terlambat dari
pada tidak berbuat. Lawan dominasi non pribumi,
jangan biarkan minoritas menguasai mayoritas.
Jika minoritas menguasai mayoritas seperti saat ini  menunjukkan
ketidakcerdasan kita semua, baik penyelenggara negara maupun pribumi
secara kolektif,” ungkap Smit.

Mengusir
etnis Cina yang kurang ajar dari negeri tercinta Indonesia ini, kata
Smit, bukan sebuah prilaku yang tabu karena presiden pertama Indonesia
telah mencontohkan dengan mengusir etnis Cina dari Indonesia.
Fakta-fakta
ini, kata Smit, adalah gambaran betapa mengerikannya kondisi negeri
ini. “Oleh karena itu kepada seluruh warga Negara Indonesia untuk dapat
memulai dan melakukan gerakan melawan kekuatan Cina yang sedang menjajah
Indonesia yang
suatu saat kelak akan memproklamirkan sebagai bagian dari Cina internasional di perantauan.
Sebab, kekuatan Cina baru ini akan menyerap semua kemampuan ekonomi
rakyat Indonesia dan sumber daya alam yang akan diarahkan ke Cina
sebagai sumber alam yang mendukung bangsa Cina menguasai dunia,” pungkas
Smit.

Sumber: suaranasional.com/20/07/2016
Posted on 20 Juli 2016
by Nahimunkar.com / dipebarui dengan foto Ahok dan Pertamina, Ahad 24 November 2019
(nahimunkar.org)

SANGAT MENARIK!  Hikmahanto: Yang Dilanggar China ZEE, Jadi Tidak Akan Ada Perang!. miKER?

No More Posts Available.

No more pages to load.