Sederet ‘BIANG KEROK’ Tol Japek Layang Bergelombang

oleh -365 views
JAKARTA, StasiunBerita – Jalan Tol
Jakarta-Cikampek II (elevated) atau Japek layang telah dibuka sejak akhir pekan
lalu. Tol yang diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini
membentang sepanjang 36,4 kilometer (km).
Seiring dibukanya
jalan tol layang ini, para pengguna jalan justru banyak mengeluarkan kritik dan
keluhan. Sebabnya, kondisi jalan tol Japek layang ini dinilai terlalu
bergelombang untuk para pengendara.
Ada yang menilai
gelombang ini terlalu hebat sehingga mengganggu kenyamanan bahkan membahayakan
pengemudi. Gelombang yang akhirnya menimbulkan goncangan ini bahkan disebut
membuat pengendara mual.
Banyak masyarakat
yang membandingkan Japek layang dengan jalan tol Tanjung Priok layang maupun
jalan layang Antasari yang terasa mulus. Lantas, mengapa ada perbedaan
kenyamanan? dan mengapa jalan tol Japek ini tampak begitu bergelombang?
Tim detikcom
mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Direktur Operasional PT Waskita
Karya (Persero) Bambang Rianto selaku salah satu kontraktor jalan tol Japek
layang pekan ini.
Berikut
wawancaranya:
Mengapa jalan Tol
Japek Layang ini tampak bergelombang? Sambungannya setiap 100 meter terasa
mengguncang. Secara teknis seperti apa penjelasannya?
Kami juga menyikapi
apa yang disampaikan teman-teman media. Jadi sebetulnya tentang permukaan jalan
tol yang bergelombang itu, itu kembali dengan apa yang kita sebut dengan
alignment vertikal.
Tapi sebelum saya
jelaskan itu, pertama saya ingin mengungkapkan bahwa Japek Elevated ini pertama
itu visi rasionya sudah sangat tinggi. Jadi perbandingan antara volume
kendaraan dengan kapasitas jalan yang ada di bawahnya itu sudah sangat tinggi.
Even kalau saat ini sudah berjalan dengan sangat baik karena memang berdasarkan
pengalaman kita sendiri, banyak yang menggunakan bahu jalan.
Itu lah mengapa
untuk mengeliminer kemacetan maka dibutuhkan pembangunan atau untuk mengurai
kemacetan dibutuhkan pembangunan Japek Elevated. Sebetulnya opsinya memang
ditambah 2 lanjut ke bawah, tapi posisinya sudah tidak mungkin, sehingga dia ke
atas. Meskipun pemerintah saat ini juga sedang membangun Japek Selatan, dari
Jatiasih ke Purwakarta, itu sebagai alternatif lain masyarakat yang ingin ke
Bandung.
Jadi pertama adalah
rasio dari volume yang melewati dengan kapasitas jalan yang ada. Kedua kita
bicara klasifikasi jalan tol yang ada. Kalau kita lihat tol Japek Elevated ini
adalah tipe 1 kelas II, artinya masuk dalam jalan tol dalam kota.
Kalau jalan tol
dalam kota, itu punya regulasi, aturan kecepatannya 60-80km/jam. Kalau tol luar
kota itu 100-120km/jam.
Kenapa ada perbedaan
itu?
Karena memang kalau
di tol dalam kota itu sudah ada aturannya yang dikeluarkan pemerintah bahwa
untuk tol dalam kota kecepatannya 80km/jam. Karena memang bedanya kalau luar
kota kan lebih panjang, kalau dalam kota kan spotnya pendek-pendek. Dari situ
lah kemudian turunan desain itu keluar.
Ketiga adalah
tentang kerumitan dan risiko kecelakaan yang tinggi. Bagaimana tidak rumit?
karena pembangunan jalan tol elevated ini di bawahnya ada jembatan
penyeberangan orang (JPO), di bawahnya lagi ada 200 ribu kendaraan/hari yang
aktif, tidak boleh berhenti. Kita membangun di tengah-tengah. Jadi di bawahnya
itu ada JPO, ada Simpang Susun Cibitung, ada Simpang Susun Karawang, di
bawahnya lagi ada 200 ribu kendaraan yang aktif.
Ditambah, di sebelah
kanannya ada kereta cepat, di sebelah kirinya ada LRT, di atasnya ada SUTET.
Jadi di atas ada, di samping ada, di bawahnya ada dua. Jadi kami ini memang
yang disebut Pak Presiden, pembangunan ini termasuk yang paling rumit karena
posisinya seperti tadi. Jadi bagaimana kami memanfaatkan ruang yang ada untuk
bangun Japek Elevated ini.
Kemudian yang
keempat adalah risiko kecelakaan yang tinggi. Bagaimana kami mengelola safety
yang sangat ketat karena hampir semuanya sepanjang 36 km ini bekerja di
ketinggian. Dan ini 24 jam kita menjaga traffic-nya tetap lancar. Tapi kita
bekerjanya di window time, yaitu jam 10 malam sampai jam 5. Tapi kembali lagi
itu tidak mutlak. Itu adalah schedule yang kami miliki. Tapi manakala kemudian
kita dapati traffic sedemikian macetnya, kami beri prioritas utama masyarakat
untuk menggunakan jalan terlebih dahulu.
Jadi kami dalam
posisi memberikan pelayanan dulu untuk tidak macet, baru kami bekerja. Banyak
juga yang mana pada saat kami siapkan semua dengan baik, tapi kita batalkan
karena traffic-nya sangat tinggi.
Kemudian yang
terakhir adalah bagaimana bangunan ini, konstruksi jembatan ini, jalan layang
terpanjang se Indonesia memiliki durability terhadap gempa. Oleh karena itu
kami memiliki teknologi yang namanya Lead Rubber Bearing (LRB) ini fungsinya
untuk meredam gempa yang datang, kemudian diterima oleh LRB, untuk dieliminer
supaya diterima supaya strukturnya lebih rendah. Sisa daripada itu akan
dihandle kembali oleh ekspansion joint. Ekspansion joint inilah yang dirasakan
masyarakat setiap melewatinya menjadi seperti wave.
Soal safety,
kenyamanan, keamanan, tadi belum terjawab. Kenapa jalan tol Japek 2 Elevated
ini bergelombang, kenapa Priok tidak?
Jadi bisa saya
sampaikan, jadi sekarang kita, jalan tol layang ini sebetulnya kalau kita lihat
di bawahnya, di antaranya ini ada JPO, ada juga yang namanya simpang susun. Dan
ada 200 ribu kendaraan aktif per hari. Kemudian di sampingnya ini ada KCIC, kemudian
ada lagi LRT (Jabodebek). Terus ada juga SUTET.
Jadi Japek ini
adanya di tengah-tengah, di median di mana dia harus dikerjakan di bawahnya
dalam posisi kendaraan aktif sebanyak 200 ribu kendaraan per hari. Kemudian di
bawahnya juga ada JPO dan simpang susun. 1 Hal simpang susun paling tinggi itu
elevasinya 13 meter. Jadi kalau ditambah clearance maka jembatan Tol Elevated
ini ditambah clearance 5,1 meter harus tingginya 18 meter.
Jadi kalau jalan tol
ini kita bikin lurus semua, itu harus ketinggiannya 18 meter. Coba bayangkan 18
meter atau sama dengan 20 meter dengan ditambahkan konstruksi yang lain, itu
ekuivalen dengan kalau ini ada gedung, kira-kira di lantai 5. Jadi kalau kita
mengendarai di lantai 5 sebuah gedung bayangkan tanpa dinding, bagaimana
perasaannya. Jadi tinggi sekali. Dan terpaan angin.
Yang kedua juga dari
sisi costnya akan lebih tinggi. Karena otomatis dengan ketinggian yang ditambah
lebih tinggi, dia akan lebih lebar. Itulah sebabnya ketika dia bertemu dengan
JPO dan simpang susun maka dia harus menyesuaikan ketinggiannya. Setelah dia
melewati JPO dan simpang susun dia kembali normal.
Kalau kita tarik
flat dari ujung sampai ujung itu tinggi sekali. Kan harus berada pada level
simpang susun yang paling tertinggi. Dan itu cost investmentnya tinggi sekali.
Kemudian bagaimana
kita, kemarin teman-teman mungkin lihat ada kemiringan. Kemiringan ini kita
pastikan tidak melebih 4%. Artinya 4 meter tinggi, per 100 meter panjang. Nah
rata-rata itu hanya 2%. Jadi sepeda saja bisa mengayuh, apalagi lobster.
Kemudian pada saat
mobil berada di sini (bagian tanjakan) dia mampu melihat jarak panjang hentinya
itu 110 meter. Artinya seorang pengendara harus merespons dalam keadaan
mendadak itu minimal 110 meter. Dan itu adalah panjang yang cukup untuk si
pengendara merespons secara mendadak. Jadi parameter itu adalah akibat dari
karena memang ini disebut jalan tol dalam kota. Sehingga desain speednya itu
adalah 80km/jam. Di dalam regulasinya 60-80km/jam.
Karena speednya
60-80km/jam, ini membuat segala regulasi turunannya menyertai. Jadi kelandaian,
kemiringannya tidak boleh melebihi 4%, dan kita harus pastikan ini tidak lebih
dari 4%, dan itu harus kita pastikan aman. Kemudian jarak pandangnya juga harus
110 meter. Nah inilah yang membuat mengapa jalan tol itu menjadi bergelombang.
Tetapi ketika kita
berada di lapangan, maka tidak seekstrem seperti apa yang dibayangkan. Dan itu
silakan dicoba.
Selain bergelombang
itu yang dikeluhkan per 100 meter ada guncangan?
Jadi ini pier
head-nya. Kalau di layang yang lain, itu sambungannya ada di setiap pier.
Justru lebih pendek. Kami sudah melipatkgandakan kenyamanan dengan memberikan
sambungan pada span yang ketiga. Jadi kalau span pertama, span kedua, span
ketiga, kami adanya di sini dan di sini, per 180 meter. Yang biasanya ada di
setiap pier. Jadi kalau kami buat di setiap pier, maka jaraknya 60 meter. Tapi
kalau kita bikin per 3 span, maka 180 meter. Artinya dari sisi orang yang
mengendarai dia akan menjumpai sambungan itu justru lebih dari span yang
ketiga, berbeda dengan tempat yang lain dia akan menjumpai sambungan di span
yang pertama.
Bedanya adalah, di
tempat lain itu ekspansi jointnya kecil-kecil, kenapa? karena yang kita pakai
itu tipenya adalah size mix join. Jadi sambungan yang mampu mengakomodir gempa.
Kemudian di bawahnya ini kalau ada girder, ini ada dudukan yang mampu menahan
steell box girder, yang kita sebut LRB. LRB juga ini teknologi yang kita adopt
sekarang, singkatannya itu Lead Rubber Bearing, itu untuk meredam gempa.
Jadi pada saat gempa
terjadi, maka akan diterima oleh LRB, kemudian diteruskan pada struktur ini
tidak maksimal. Ini teknologi baru. Nah kemudian sisanya akan diterima oleh
Expansion Joint ini. Jadi pada saat diterima ini sudah tidak besar. Nah
Expansion Joint ini adalah, pada saat dia terdesak, pada saat itu terjadi, maka
dia mampu menahan sampai 20 centimeter pergerakan. Tapi tipe ini kita pilih,
maka Expansion Jointnya tidak bisa yang kecil. Tidak bisa yang lebarnya lebih
kecil, justru yang besar.
Memang potensi gempa
itu ada di kajian?
Jadi gini, setiap
kita mendesain itu paling tidak efisien dan aman. Nah aman ini kami juga
memperhitungkan karena ini kan jalan layang, tol layang terpanjang saat ini di
Indonesia 36,4 km, maka kita berpikirnya lebih visi ke depan. Sehingga
akomodasinya, perhitungannya adalah gempa 1.000 tahunan periodenya yang kita
akomodir untuk membuat desain ini. Nah jadi ini sebenarnya fungsi, kembali ke
fungsi.
Tetapi kami
mengoptimalkan kenyamanan. Kenyamanan itu kita optimalkan, nah keamanannya kita
scorenya tertinggi. Jadi keamanannya kita tinggikan, kenyamanannya kita
optimalkan, salah satunya adalah Expansion Joint kita jauhkan, kemudian
pier-pier ini 60 meter. Padahal, yang lain 40-45 meter, kenapa? Supaya pada
saat orang berkendara di bawah, apalagi saat kita membangun itu tidak
menciptakan gangguan ke traffic.
Bayangkan kalau kita
buat lebih dekat, maka setiap orang yang bekerja di titik ini kan akan
menimbulkan disruption terhadap traffic. Dan kedua ketika orang menyetir di
bawah, orang akan melihat pandangan yang lebih luas ketika ini (tiang) kita
bikin lebih rapat.
Memang akhirnya pada
saat dia ketemu dengan, misalnya simpang susun, dia mulai naik (bergelombang).
Tapi kalau mau dibikin setinggi ini semua (jadi rata), sama dengan kita
berjalan, kendaraan itu berjalan di lantai 5 sebuah gedung.
Asumsi bahwa dengan
model seperti ini tuh menimbulkan guncangan di kendaraan, sehingga akan
mempercepat suspensi kendaraan, itu diperhitungkan nggak?
Gini, jadi ini kan
finishingnya terakhir ya, pakai blacktop, pakai aspal. Aspal ini termasuk yang
lebih bersahabat dengan ban. Sebenarnya ini kembali kepada cara mengemudi.
Kalau kecepatannya didesain untuk 60-80 km/jam, meskipun saya perhatikan di
lapangan ada yang sudah 100-120km/jam, dan masih aman-aman saja. Jadi kembali
lagi ke pengemudi.
Kalau sering
berjalan dengan kecepatan yang tinggi, dan akan sering mengerem, maka akan
menciptakan keausan yang lebih cepat. Jadi menurut saya kembali cara kita
mengemudi, bukan kepada spesifikasi teknis dari konstruksi.
Jadi infrastruktur
sudah dijamin baik keamanan dan kenyamanan?
Iya, jadi pada saat
mendesain itu kita memakai pedoman geometri yang disusun kementerian PUPR.
Kemudian yang kedua,
desain dari strukturnya kita meng-adopt standar nasional Indonesia dan
me-reffer kepada American Association of Highway and Transportation Official.
Kalau dari hasil
ujicoba dari tim Waskita sendiri sepekan terakhir, keluhan yang muncul selain
yang ramai diperbincangkan apa saja?
Ya rata-rata mereka
setiap kali menemukan sambungan itu merasa gredek (goncangan) dan memang
pertama expasion jointnya itu lebar, 1 meter sampai 1,4. Di tempat lain itu
nggak sampai. Even mungkin 20cm paling tinggi. Itu tadi untuk mengakomodir
gempa.
Memang karena ini
jalan terpanjang, dan ini baru pertama, kita enggak mau..
Yang tadi dibilang
tingkat kerumitan, tadi yang pertama di dunia ya?
Sebetulnya tingkat
kerumitan ini satu, kita bekerja di atas lautan kendaraan, bayangkan 200ribu
kendaraan per hari. Khawatir kan kalau sampai ada benda kecil jatuh saja sangat
membahayakan. Dan alhamdulillah kita bersyukur ini bisa kita manage per hari.
Dan kedua syukur
kami adalah, ini dapat digunakan masyarakat dan menghemat waktu jauh sekali.
Ada yang 2 jam, sampai 2,5 jam.yang tadinya 3 sampai 4 jam. Menurut saya ini
adalah sebuah benefit yang diterima masyarakat dari program pemerintah yang
ingin mendeliver Japek elevated dalam rangka mengeliminer kemacetan di ruas
Cikunir sampai dengan Karawang Barat. Karena memang titik ini yang paling
krusial. Makanya kita sadar diri kalau lewat tol yang di bawah begitu km 57 kan
mulai lancar. Oleh karena itu titik krusialnya dari Cikunir sampai Karawang
Barat atau sepanjang 36 km ini.
Dan itu untuk
memisahkan, jadi kalau commuter untuk jarak pendek itu lewat bawah. Nah
pelintas dengan tujuan jarak panjang, ke Bandung, ke Jawa Barat, Jawa Tengah,
dst, itu lewat jalan tol Japek Elevated.
Ini yang mungkin
menyebabkan kenapa tidak ada pintu keluar banyak ya, meskipun efeknya ketika
ada yang mogok nariknya jadi panjang banget?
Iya, dan saya pikir
Jasa Marga sudah punya pengelolaan yang baik untuk merespons apabila ada
terjadi sesuatu di atas. Karena saya tahu Jasa Marga sudah punya armada yang
cukup banyak dalam rangka menangani itu.
Kalau kita lagi
ingin supaya kendaraan masal itu bisa ikut, salah satu kritiknya ini tol
berarti untuk para pemilik mobil pribadi hanya untuk orang-orang kaya, kalau
pengguna transportasi umum nggak bisa ikut menikmati nih, nggak boleh lewat?
Jadi sebetulnya ini
untuk golongan I, peruntukan sementara. Sebetulnya kalau dari sisi desain, dari
sisi kekuatan, dari sisi keamanan, ini dipergunakan untuk semua jenis
kendaraan. Jadi semua bisa, boleh masuk, ini dari sisi struktur. Dari sisi
struktur, dari sisi kekuatan konstruksinya.
Nah kalau misalnya
pembatasan itu sementara ini baru pada golongan I, ini adalah kebijakan tentu
ada pertimbangan khusus dari pihak pengelola jalan tol.
Jadi artinya ke
depannya ada peluang diperlebar penggunaannya?
Ada peluang. Ini kan
juga saya dengar Kementerian Perhubungan akan mempertimbangkan apabila bus bisa
naik ke atas. Tapi dari sisi struktur, keamanan tidak ada masalah.
Kalau dari sisi
tarif sudah diputuskan belum? hitung-hitungannya berapa?
Tarif ini memang
domainnya Jasa Marga, tapi dari kami adalah begini, sesuatu yang ber-impact
kepada tarif itu adalah nilai investasi daripada jalan tolnya. Di dalam nilai
investasi jalan tol itu ada yang namanya biaya konstruksi. Nah tugas kami
adalah bagaimana mendeliver biaya konstruksi yang efisien. Supaya impact kepada
nilai investasinya kemudian ber-impact kepada tarifnya itu masih terjangkau ke
masyarakat. Jadi tugas kami bagaimana mendesain yang efisien tapi aman. Dan
bagaimana kami melaksanakan konstruksi yang zero accident, zero accident, zero
fatality, dan menciptakan keamanan dan keselamatan bagi pengguna jalan.
Jadi ancer-ancernya
akan sama dengan tol yang di bawah, atau lebih murah, atau sama?
Kalau menurut saya
ini memang domainnya Jasa Marga dan Kementerian PUPR. Tapi kalau saya boleh
sampaikan, kalau saya dengar-dengar sih memang ada rencana disamakan atas dan
bawah.
Karena ada yang
bilang, ini kalau dibikin lebih mahal, tujuannya untuk mengurangi kemacetan
nggak akan terpenuhi karena orang, yaudah ngapain, tarif lebih mahal?
Saya yakin
pemerintah memiliki policy yang terbaik untuk masyarakat. Tugas kami sebagai
pelaksana konstruksi, dan ini saya ingin sampaikan. Pelaksana konstruksi di
sini itu ada 2 BUMN, dan ada 2 swasta. Jadi PT Waskita Karya itu dari Km 9,5
sampai Km 28, atau dari Cikunir sampai Cikarang.
Setelah itu dari Km
28 sampai Karawang Barat itu PT Acset Indonusa. Jadi 2 ini sebagai main call.
Jadi separuh itu Waskita, separuh itu Acset. Kemudian di bawah kami ada PT
Bukaka. Bekerja sama dengan BUMN yaitu Krakatau Steel dalam rangka melakukan
konstruksi steel box girder, kemudian LRB, kemudian expansion joint, itu
mereka. Kalau kami yang mengelola bagaimana supaya konstruksi ini aman dan baik
pengguna jalan.
Saat hujan deras
kemarin, ada keluhan terjadi genangan di sejumlah titik. Benar nggak? Dan
apakah itu terkait kebijakan kemiringan 4%?
Jadi kalau masalah
genangan, desain kita itu kan begini, kemiringannya itu sudah kita desain. Jadi
kalau pas tikungan, itu kemiringannya seperti yang kita sebut super elevasi,
itu sudah sampai maksimal 5%, tapi kita tidak sampai sebesar itu. Tapi artinya
tidak ada permukaan yang kita bikin flat, karena supaya air itu mengalir. Nah
saya akan cek tapi memang sepanjang saya melewati tidak ada genangan.
Dan kami juga
memiliki, ingin saya sampaikan ke pemirsa bahwa saat ini kami memiliki program
pemeliharaan. Jadi kalau konstruksi sudah selesai ada program pemeliharaan. Nah
program pemeliharaan ini itu berdasarkan self assessment kita, berdasarkan
penilaian kita sendiri, yang mana-mana yang bersifat korektif. Nah ini kami
lakukan, dan kami memanfaatkan sebelum datangnya peak traffic pada saat natal
dan tahun baru. Jadi memang kami masih melakukan korektif di beberapa tempat
tapi itu berdasarkan penilaian kami sendiri. Tapi sekali lagi itu sebagai
komitmen kami untuk bagaimana menciptakan keamanan dan keselamatan bagi
pengguna.
Hitung-hitungannya
berapa banyak kendaraan yang akan melintas di Japek Layang?
Tadi saya di depan
pernah sampaikan bahwa visi rasio atau perbandingan antara volume kendaraan
yang akan lewat dengan kapasitas jalan tol yang eksisting yang ada di bawah itu
sudah sangat tinggi. Kalau tidak menggunakan bahu jalan sudah pasti akan menimbulkan
stuck. Kemudian dengan kita melakukan pemisahan pada saat kita mulai survei dan
sebagainya pada saat itu, kita sudah mengasumsikan bahwa yang membutuhkan rute
panjang artinya pelintas jangka panjang, itu akan mengalami pemindahan sekitar
30-40%.
Jadi kalau itu kita
artikan ekuivalen dengan mengurangi kemacetan maka keramaian atau kemacetan itu
akan berkurang 30-40% akan naik ke atas. Saat ini memang saya lihat trafficnya
belum begitu ramai, belum padat, karena memang juga tolnya belum baru. Kedua
karena belum musim natal dan tahun baru. Tapi saya mengimbau pada pengguna
jalan yang akan melintas di Japek Elevated, jangan khawatir, ini aman, karena
sejak awal didesain dengan mengakomodir regulasi, kemudian kedua juga
disupervisi oleh KKJTJ, Komite Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan, yang
melakukan supervisi mulai dari sejak awal kemudian terakhir-terakhir kita
melakukan uji beban. Uji beban diisi dengan muatan 20 ton, kemudian melintas
bersama-sama, kita melewati proses itu dengan baik, dan kita selanjutnya
mengikuti uji laik operasi, dan kita sudah selesai.
Waktu awal
diresmikan kan diworo-woro kecepatan 80km/meter, itu yang melebihi katanya
ditilang, tapi apa sudah dipasang?
Nanti akan dipasang
itu untuk memfilter. Kalau kecepatannya lebih tinggi pasti akan ditilang, pada
saat itu mungkin belum dipasang. Ke depannya memang akan dipasang itu dan ini
domainnya di Jasa Marga. Tetapi sesungguhnya kalau kembali kepada kecepatan itu,
memang berdasarkan aturan tol dalam kota, itu kecepatannya 60-80km/jam. Tapi
kita mahfum lah ya, tahu teman-teman rata-rata itu ya cuek saja gitu menempuh
di atas kecepatan itu. Tapi memang saya juga pernah mencoba sebelum diresmikan,
so far so good.
Jadi saya pikir ini
kembali ke kearifan para pengemudi ya. Kalau kita melihat trafficnya begitu
padat tentu dia akan membatasi kecepatan tapi kalau trafficnya lancar ya
menurut saya bagaimana teman-teman pengguna jalan ini menyiasati dengan baik,
dan satu lagi jangan sampai melanggar kecepatan.
Pak, setelah ini
diresmikan konon mau ada tol elevated lainnya yang akan dibangun yang akan
tembus ke Purwakarta ya?
Jadi itu bukan
elevated, namanya Japek Selatan, Jakarta-Cikampek Selatan. Itu rute baru, jadi
dari Jatiasih sampai Purwakarta. Jadi itu sebagai jalur alternatif bagi mereka
yang ingin ke Bandung atau Jawa Barat bisa melewati tol yang nanti akan kita,
ini sebenarnya kami Waskita yang mengerjakan, mungkin akan selesai di 18 bulan
kemudian. Dan ini nanti bisa alternatif bagi masyarakat yang mau ke Bandung
lewat jalan lain.
Jadi nanti ke depan
pemerintah itu punya 4 alternatif kalau mau ke Jawa Barat. Pertama itu lewat
Tol Japek yang di bawah, kedua lewat jalan tol layang yang di atas, yang
disebut Japek II Elevated. Ketiga yaitu lewat Japek Selatan, yaitu ruas dari
Jatiasih sampai Sadang, Purwakarta. Yang keempat itu dari Sukabumi, itu nanti
sampai Padalarang. Namanya Sukabumi-Ciranjang-Padalarang.
Itu sudah dibangun
juga?
Belum, jadi saat ini
trasenya sudah dalam, inisiasinya sudah ada di kami di Waskita, dan mungkin
akan kami mulai konstruksi di tahun depan.
Kalau yang Japek
Selatan dia beloknya di mana?
Dia Jatiasih, kalau
yang sekarang ini kan baru paket pertama itu dari Sadang sampai namanya Tanah
Mekar. Dari situ nanti dari Tanah Mekar langsung sampai Jatiasih.
Jadi sebetulnya
total proyek tol yang lagi digarap Waskita ada berapa ruas dan km?
Saat ini kami
sebagai BUJT, dalam hal ini sebagai investor maupun kontraktor, kami
mengerjakan 1.050 km. Dari 1.050 km ini, yang sudah didivestasi itu saya lupa,
tapi sekarang jadi tinggal 820km. Jadi sekarang ini kami punya 820 km. Di mana
dalam 820 km tol Waskita ini, 300 kmnya sudah beroperasi. Jadi yang sekarang
sedang dalam pekerjaan kami ada 500 km.
Itu bukan hanya di
Jawa?
Bukan hanya di Jawa.
Kami memang kemarin yang paling banyak di Trans Jawa, kemudian yang kedua kami
juga mengerjakan Trans Sumatera, di sana ada yang sebagai kontraktor, ada juga
yang sebagai BUJT.
Kalimantan, ibu kota
baru ada?
Berikutnya kami akan
menyasar ke sana. Ini menjadi sesuatu yang sangat seksi karena kita ingin
segera menjadi agen pembangunan pemerintah saat ini karena Pak Presiden sangat
fokus pembangunan ibu kota baru di sana. Di mana kita tahu bahwa di situ akan
ada kira-kira 40 km jalan, kemudian perumahan untuk ASN pun sekitar 300 ribu
unit lebih atau sekitar 1,5 juta jiwa yang akan pindah ke sana.
Jadi kalau kita
melihat kebutuhan ini saja sudah sangat besar peran yang harus kita berikan di
ibu kota baru nanti. Dan kami saat ini sedang dalam masa menyiapkan, sudah ada
tim yang kami siapkan untuk melakukan riset, dan kami sudah melakukan, membuka
pabrik beton di sana.
Pak Jokowi bilang
BUMN ini jangan cuma jadi jago kandang, tapi juga ekspansi ke luar. Kalau
Waskita sendiri rencana ke luar?
Saat ini currently
projectnya itu ada di Arab Saudi, kita sudah ada lama di sana. Kemudian kita
juga pernah mengerjakan kantor di Arab Saudi. Berikutnya saat ini kami sedang
menyasar ke Filipina dan juga ada beberapa yang akan kita kerja sama ke
Malaysia.
Jadi kalau untuk go
internasional ini sebenarnya kami sudah memulai cukup lama. Dan mungkin saat
ini, tahun-tahun ini adalah masa-masa kami lebih meng-increase program untuk
ekspansi ke luar negeri. Karena ini dalam rangka meningkatkan pasar eksternal
untuk menjadi makanan bagi produksi kami.
Ada satu isu yang
cukup kontroversial terkait penjualan jalan tol. Presepsi, narasi yang
berkembang di masyarakat bilang ini BUMN malah jual aset negara?
Jadi saya mau
klarifikasi ya. Ini pemahaman yang keliru, melepaskan aset ini pemahaman yang
sangat keliru.
Jadi yang namanya
jalan tol itu ada dua, ada jalan tol solicited dan unsolicited. Nah kami BUJT
itu itu mendapat konsesi, jadi konsesi atas jalan tol. Yang memiliki tanahnya,
asetnya tetap pemerintah. Tapi kami memiliki hak konsesi selama, macam-macam, ada
yang 40 tahun dan lebih, atau mungkin ada yang kurang dari itu.
Kami sebagai
development agen, untuk membangun Indonesia, memiliki komitmen untuk mampu
me-roll over. Jadi apa yang kami deliver di tahap pertama harus mampu
mengungkit kemampuan kami di tahap kedua, dan ini yang dibutuhkan masyarakat.
Jadi problemnya adalah kami melakukan moving segera, jadi kalau saya, akhirnya
bisnis Waskita mengalami perubahan. Jadi mulai dari pertama kami men-create
investasi proyek infrastruktur, kemudian kita kerjakan, kemudian kita
operasikan yang memang pada saat kita operasikan belum ter-divest, atau memang
ini adalah potensi re-carrying income untuk Waskita. Kemudian berikutnya kita
divest.
Nah di sinilah yang
kita divest, yang kita lakukan pelepasan konsesinya. Jadi sekali lagi ini
melepas konsesinya ya, bukan menjual aset. Jadi melepas konsesinya bukan aset.
Di dalam konsesi itu ada yang namanya re-carrying income, ada revenue, itulah
yang kita lepas. Jadi kepemilikan kami itu lebih kepada bagaimana konsesi kami
yang kami lepas. Dan saat ini yang kami lepas adalah yang minoritas.
Rencana ada berapa
ruas tol lagi yang akan dilepas?
Kami masih memiliki
16 ruas jalan tol. Harapan kami dari divestasi 2 ruas jalan tol yang baru saja
terjadi, maka kemampuan kami bertambah untuk segera mendeliver program
infrastruktur kami bagi pemerintah.
Jadi dari 16 ruas
tol tersisa, mana lagi yang akan dilepas?
Jadi kami memang
punya 16 ruas tol ya. Bagi kami adalah, ini kalau kami menawarkan sesuatu,
seberapa jauh minatnya, kan begitu. Tentu ini akan kami compare dengan seberapa
jauh kebutuhan kita. Pokoknya dari 16 itu kami akan berusaha mendivest sesegera
mungkin yang mana. Jadi kami tidak membatasi. Dari bundling yang kami punya,
yang kemudian match dengan apa yang dimaui oleh investor, ini yang akan kami
lepas.
Targetnya berapa
triliun yang ingin dikantongi Waskita?
Ya insyaallah si
kalau semuanya ini banyak sekali. Kalau bisa laku segera semua akan lebih baik
bagi Waskita. (detikcom)

No More Posts Available.

No more pages to load.