SBY Melawan?

oleh -307 views
Oleh: Nasrudin Joha
KOLOM PEMBACA-OPINI, StasiunBerita – Rezim Jokowi ini
memang kebangetan,  dia yang makan nangka, SBY yang kena getahnya.
Setidaknya, hal itu terbaca dari keterangan kementrian BUMN yang menarik
kronologi bangkrutnya Jiwasraya sejak tahun 2006. 
Wajar jika SBY
berang, melalui Staf Pribadi SBY Ossy Dermawan, SBY mengungkapkan menerima
sejumlah tamu dan ketika itu ada yang menyampaikan bahwa kasus Jiwasraya mau
ditarik mundur ke tahun 2006.
SBY menyebut jika di
negeri ini tak satupun yang mau bertanggung jawab tentang kasus Jiwasraya,
salahkan saja masa lalu. Namun SBY cukup cerdik, selain mempersilakan mengusut
masa lalu SBY juga menarik Sri Mulyani, Yusuf Kalla, dan pejabat lain saat membantu
SBY sebagai pihak yang turut terlibat.
Ini seperti saling
mengunci, rezim Jokowi mengunci kasus dengan menarik SBY, SBY mengunci kasus
dengan menarik JK dan SMI, begitu seterusnya. Ujung-ujungnya nanti rakyat jadi
korban, diminta “tombok” untuk mengganti pembayaran klaim nasabah yang
jatuh tempo.
Skenario ini sudah
disiapkan oleh Erick Tohir, dengan membuat holding BUMN asuransi. Kelak,
holding ini yang menanggung beban pembayaran klaim yang jatuh tempo, kalau
kurang tinggal usulkan penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN). 
Jadi, tujuan rezim
menarik SBY ke pusara kasus Jiwasraya bukan untuk membuang kasus dan
memenjarakan SBY, tapi untuk bernego agar anak buah SBY tidak
“ribut”. Selama ini, geng Demokrat memang cukup “cerewet”
mengkritik kasus jiwasraya.
Tujuan rezim adalah
agar SBY bisa berkompromi, mau bernego dan menerima solusi holding BUMN
asuransi, sekaligus agar SBY “menyemprit” kader Demokrat, agar tak
lagi “galak” dalam kasus jiwasraya.
Kita lihat lah kalau
satu dua hari Kedepan Andi Arif, Jansen Sitendaon, Ferdinan Hutahaean tiarap,
mulai menutup mulut dari diskusi jiwasraya, berarti negosiasi berhasil.
Selanjutnya, tinggal mengkondisikan fraksi Demokrat di DPR untuk meloloskan
skema holding BUMN asuransi dan skenario penambahan PMN.
Hal ini juga berlaku
bagi partai yang lain yang berani buka suara nyaring terkait jiwasraya. Bagi
partai yang bungkam, kemungkinan telah membuat kesepakatan politik dengan rezim
dan telah mengajukan “mahar” sebagai syarat negosiasi. Atau mereka
memang pelaku yang terlibat dalam skandal perampokan jiwasraya.
Kasus ini ujungnya
akan antiklimaks, persis seperti Century dan BLBI. Semua rezim punya borok,
saya pesimis mereka berani “bongkar-bongkaran”.
Untuk meng-close
kasus, Kejagung sedang memilah dan memilih kasus mau dihentikan kepada siapa.
Strategi lokalisir dan isolasi sedang dijalankan.
Wahai rakyat
negeriku, betapa malang nian nasibmu. Para penguasa di negeri ini, ramai-ramai
merampok harta rakyat, kemudian membebankan kerugian kembali kepada rakyat. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.