Orang-Orang Istana Dalam Pusaran Tsunami Kasus Skandal Jiwasraya

oleh -302 views
JAKARTA, StasiunBerita – Kasus gagal bayar PT
Asuransi Jiwasraya (Persero) akhirnya menyeret orang-orang istana. Ada 3 nama
yang disebut-sebut dalam pusaran skandal Jiwasraya ini. Harry Prasetyo, Erick
Tohir, dan Dato Sri Tahir.
1.
Harry Prasetyo
Mantan Direktur
Keuangan Jiwasraya dua periode (2008-2018) ini pernah menjadi Tenaga Ahli Utama
Kedeputian III bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Ekonomi Strategis di
Kantor Staf Presiden ( KSP).
Kepala KSP Moeldoko
semula menolak mengakui keberadaan Harry dikantornya, namun akhirnya mengakui.
Setelah kasus Jiwasraya meledak, Harry dikabarkan mundur (dimundurkan) dari
Deputi di KSP.
Harry memiliki peran
sentral dalam kebijkan keuangan Jiwasraya. Sebagai Direktur Keuangan dia
memiliki kekuasaan mengatur lalulintas keuangan untuk menjaga perusahaan tetap
hidup dan berkermbang.
Harry Prasetyo
menjabat sebagai Direktur Keuangan Jiwasraya sejak Januari 2008 dan berakhir di
Januari 2018.
Yang disesalkan,
langkah Harry dinilai banyak pihak tertalu berani, tidak hati-hati, dan diluar
kewajaran, dalam menempatkan modal perusahaan.Tidak saja memborong saham-saham
lapis tiga yang volatil dan beresiko tinggi seperti saham PT Trada Alam Minera Tbk
(TRAM), PT Hanson Internasional Tbk (MYRX), PT Rimo International Lestari Tbk
(RIMO), dan PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP).
Jiwasraya juga
membeli saham yang jumlahnya dinilai terlalu besar (diatas 5%) pada saham
perusahaan lapis dua (second liner). Emiten yang sahamnya pernah dibeli
Jiwasraya lebih dari 5 persen adalah PT Mahaka Media Tbk (ABBA),PT SMR Utama
Tbk. (SMRU), PT PP Properti Tbk. (PPRO), dan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk.
(SMBR), PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN).
Harry Prasetyo,
tentu bersama Dirut Jiwasaraya Hendrisman Rahim, juga menempuh “jalan
berbahaya” dengan menggelontorkan pinjaman ratusan Milyar dalam skema surat
utang jangka pendek dan menengah alias Medium Term Notes (MTN) kepada PT Hanson
International Tbk (MYRX) milik Benny Tjokrosaputro dan PT Rimo International
Lestari Tbk (RIMO) milik Teddy Tjokrosaputro.
Kedua perusahaan ini
diduga gagal bayar (tidak mampu membayar) pinjaman kepada Jiwasraya hingga
jatuh temponya. Namun belakangan pihak MYRX menyebut sudah melakukan pembelian
kembali (buy back) seluruh MTN pada Desember 2018 senilai Rp 680 miliar.
Terhadap pinjaman
langsung tersebut, sebelumnya BPK telah melakukan audit dan memberikan catatan
bahwa aksi korporasi itu sebagai langkah berbahaya, karena beresiko gagal
bayar. Namun pihak Jiwasraya tidak mengindahkan peringatan itu.
Dengan
langkah-langkah seperti itu wajar kalau publik menilai manajemen dengan sengaja
hendak “merampok” Jiwasraya.
Kini Harry telah
dicekal bepergian ke luar negeri sejak 26 Desember 2019 oleh Kejaksaan Agung.
Ada 10 orang yang telah dicekal terkait kasus Jiwasraya ini.
2.
Erick Tohir, Menteri BUMN
Perusahaan milik
Erick, PT Mahaka Media Tbk (ABBA) menjadi salah satu tujuan penempatan modal
Jiwasraya melalui pembelian saham di pasar modal. Jumlah saham yang dibeli
cukup besar, diatas 5 persen. Erick Tohir tidak memberikan klarifikasi langsung
soal ini. Tetapi melalui Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga, telah diakui
pembelian Jiwasraya pada saham ABBA ini.
Arya menjelaskan
sebagai hal wajar dan biasa karena pembelian itu melalui mekanisme pasar yang
sah. Namun dia belum memberikan penjelasan kapan dan berapa jumlah yang dibeli
oleh Jiwasraya.
Anehnya justru Dirut
Jiwasraya yang baru, Hexana mengatakan pembelian saham milik Erick Tohir itu
menguntungkan Jiwasraya. Benarkah? Perlu dicek.
3.
Dato Sri Tahir
Bos Mayapada Group
ini sekarang menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Joko
Widodo. Dato ini pernah dianugerahi sebagai warga kehormatan Brimob.
Dato Sri Tahir
membuat langkah mengejutkan dalam pusaran kasus Jiwasraya ini. Dia akan
mengakuisisi anak perusahaan MYRX dan RIMO. Ada apa? Perintah istana atau aksi
korporasi biasa?
Emiten property PT
Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) milik Dato Sri Tahir akan mengakuisisi anak
usaha PT Hanson International Tbk (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk
(RIMO). Keduanya merupakan perusahaan yang dinakhodai keluarga Benny Tjokrosaputro.
Dato Sri Tahir
menempati posisi ketujuh daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Ia
memiliki kekayaan senilai 4,8 miliar dollar AS.
Seperti tersebut
dimuka, selain beli saham MYRX dan RIMO, Jiwasraya juga menggelontorkan
pinjaman dana jangka pendek dan menengah kepada 2 perusahaan itu dalam skema
surat utang.
Diduga MYRX dan RIMO
gagal bayar kepada Jiwasraya. Jadi, akuisisi yang dilakukan Dato Sri Tahir bisa
jadi terkait hal ini. Agar bisa bayar kewajibannya kepada Jiwasnya.

Siapa lagi orang
istana yang terlibat? Perlu ditunggu dan dipantau terus jalannya drama ini. [zonasatunews]

SANGAT MENARIK!  Resep Buat Nasi Goreng Kambing Enak, Spesial Khas Betawi

No More Posts Available.

No more pages to load.