Merinding, Berjumpa Hantu Disiang Bolong (Cerita Nyata)

oleh -

Oleh : Jumari Haryadi

Cerita nyata di bawah ini betul-betul dirasakan oleh salah seorang rekanan penulis, sebutlah saja Arifin (bukan nama sebetulnya). Pria lulusan Fakultas Seni Rupa ITB itu telah lama tidak pulang ke kampungnya di Cirebon.

Semenjak lulus kuliah serta diterima kerja dalam suatu perusahaan garmen terpenting di Bandung, ia jarang-jarang pulang. Ini dapat dimaklumi mengingat tempatnya jadi seorang manager design yang super repot hingga membuat kesusahan cari waktu senggang untuk liburan.

Satu hari Arifin mendapatkan cuti dari kantornya. Peluang itu dimanfaatkannya untuk mudik ke kampung halamannya di Cirebon. Pria yang pernah memiliki titel juara melukis saat dianya masih duduk di kursi SMA itu pulang dengan mengemudikan mobil inventaris kantornya.

Waktu datang di kota Cirebon, mobilnya lewat di muka rumah Pak Dirman, bekas guru serta Kepala SMA-nya dahulu. Kebetulan tanpa ada menyengaja, bekas gurunya itu sedang berada di halaman depan tempat tinggalnya.

Arifin selekasnya perlambat pergerakan kendaraannya, selanjutnya buka kaca jendela mobilnya. Mereka lantas sama-sama bertatap muka, serta kelihatan senyum ramah dari bibir sang bekas guru. Arifin lantas hentikan sesaat kendaraannya.

loading...

“Assalamu’alaikum …..Apa kabarnya pak ?”, sapa Arifin dari dalam mobilnya.

“Wa’alaikum Salam ….berita baik Rif. Singgah dahulu, Bapak telah rindu sama kamu,” jawabnya spontan.

“Maaf Pak, Saya ingin main ke rumah saudara serta rekan dahulu, kelak pulangnya tentu singgah kesini. Silahkan pak, saya permisi dahulu….,” kata Arifin ramah, sekalian kembali mencapai pedas gas mobilnya.

Selanjutnya Arifin bertandang ke sejumlah rumah saudara serta teman dekat lamanya. Selesai bersilaturahmi, lantas Arifin dengan maksud penuhi janjinya untuk bertandang ke rumah Pak Dirman, bekas kepala SMA-nya itu.

SANGAT MENARIK!  Innalillahiwainnalillahirajiun! Pesantren Alquran Terbakar, 28 Santri & Guru Tewas Terpanggang

Setibanya dari sana, terlihat pria gendut berumur 1/2 era lebih yang rambutnya hampir semua beruban itu masih kelihatan berdiri di bawah pohon mangga, ditengah-tengah halaman tempat tinggalnya, sekalian matanya memandang kosong mengarah jalan.

Arifin selekasnya memarkir mobilnya persis di muka pagar rumah pak Dirman. Terlihat bekas gurunya itu kelihatan sumringah lihat kehadiran Arifin. Lelaki tua itu selekasnya hadir mendekati Arifin dengan jalan sedikit tertatih-tatih.

“Alhamdulillah pada akhirnya kamu ingin singgah ke rumah Bapak ya Rif … ,” sambut Pak Dirman sekalian menjulurkan tangannya ajak Arifin bersalaman.

Begitu terkejutnya Arifin saat tangannya sentuh tangan pria tua itu. Mendadak tangannya berasa dingin sekali, seperti terserang gumpalan batu es. Hingga tubuh Arifin sedikit menggigil seperti orang demam.

Anehnya , tercium aroma tidak enak yang mengambil sumber dari tubuh bekas gurunya itu. Rasa-rasanya seperti berbau bangkai tikus yang benar-benar menusuk. Sangat terpaksa ia sedikit meredam nafas untuk jaga perasaan Pak Dirman.

“Maaf pak, rumah ini kok sepi sekali. Keluarga bapak ada dimana ? “ bertanya Arifin.

“Keluarga Bapak tidak ada di sini Rif, mereka ada aktivitas semasing. Bapak sendiri saja di dalam rumah. Oh …ya, Bapak masih simpan lukisan yang dahulu pernah kamu beri. Lukisannya masih tersimpan di. Mari kita masuk ke rumah Rif,” jawab lelaki tua itu.

Bekas kepala SMA itu berjalan menyusul Arifin dengan tubuh sedikit membungkuk serta kaki kanan seperti cukup kencot, hingga jalannya kelihatan miring tertatih-tatih. Anehnya, pria tua itu berbelok arah ke samping rumah, tidak masuk lewat pintu depan. Arifin selekasnya mengikutinya sekalian tanggannya menggenggam hidnungnya untuk meredam rasa berbau yang benar-benar menyerang hidung.

SANGAT MENARIK!  Per4ng Pecah? Chino Tumpuk Jet Tempur di Dekat India

Mereka lantas masuk melalui pintu samping yang tidak digembok. Pria itu memperlihatkan satu lukisan yang terpasang didinding ruangan tengah, hasil karya Arifin yang pernah diberikannya jadi kenangan kelulusan sekolah dahulu. Ada pula beberapa photo keluarga serta beberapa patung yang menghiasi ruang itu.

Pak Dirman mempersilahkan Arifin untuk duduk, selanjutnya ia pergi demikian saja ke lalu atas. Sesaat lamanya Arifin dibiarkan sendiri diruangan itu sendirian. Situasi berasa cukup aneh, sepi serta semilir angin yang masuk berasa dingin sekali. Berbau busuk masih menusuk hidung. Sekalian menanti pak Dirman, Arifin cuma berdiri sekalian melihat beberapa lukisan serta photo yang ada pada dinding rumah itu.

Telah 1/2 jam berlalu, tetapi tidak ada pertanda jika pak Dirman akan turun ke bawah. Arifin mulai resah serta perasaan tidak enak mulai menghantui perasaannya, tetapi ia berupaya menangkisnya dengan berpikiran positif. Pertahanan alumni ITB itu pada akhirnya mulai labil, sebab yang tinggal di rumah itu lama tidak ada juga. Lantas Arifin ambil ide coba membulatkan tekad menyebut pak Dirman.

“ Pak Diirmaaaan ! …Pak Dirmaaan ! Maaf Pak, Saya tidak dapat semakin lama di sini, saya ingin pulang,” teriak Arifin sekalian memandang mengarah lantai atas.

Seringkali pria yang pernah jadi pendiri Komunitas Pelukis (FORKIS) Cimahi itu berteriak cukup keras, tetapi upayanya percuma semata, tidak ada jawaban benar-benar dari lantai atas. Tentunya ini membuat ia makin bertambah bingung. Pada akhirnya Arifin putuskan untuk pulang saja.

Keanehan kembali berlangsung, saat Arifin dengan maksud melangkahkan kakinya keluar rumah, mendadak badannya seperti ditiup angin hingga bulu kuduknya berdiri. Badannya tiba-tiba tidak dapat digerakkan, seakan-akan kaku. Dalam keadaan tidak berkapasitas itu, ia ingat nasehat almarhum ayahnya supaya tetap berzikir serta membaca ayat suci Al-Qur’an dimana saja ia ada, khususnya bila tertimpa permasalahan.

SANGAT MENARIK!  Cara Mudah Membuat Kue Sarang Laba-Laba

Arifin mulai membaca dalam hati beberapa ayat suci Al-Qur’an yang dihafalnya. Ajaibnya, mendadak badannya berasa mudah serta ia bisa mulai bergerak normal seperti biasa. Secepatnya ia keluar rumah itu ke arah mobilnya, lantas tancap gas kembali pada Bandung.

Semenjak insiden ganjil itu, pemikiran Arifin tetap ingat pada Pak Dirman. Ia tidak mengerti, kenapa bekas gurunya itu tidak tampil waktu itu. Ia bingung serta masih bertanya-tanya dalam hati, apa kiranya sebetulnya yang berlangsung ?

Satu bulan selanjutnya Arifin berpeluang kembali pada Cirebon. Kali inilah coba bertandang ke salah seorang bekas guru kimia waktu di SMA dahulu yakni Pak Anwar. Dari sana ia bercerita insiden yang dirasakannya itu serta bertanya kenapa bekas kepala SMA-nya itu berprilaku semacam itu.

Tentunya bekas guru kimianya itu kaget. Selanjutnya Pak Anwar menerangkan pada Arifin jika Pak Dirman sebenarnya telah lama wafat, seputar 3 tahun waktu lalu sebab penyakit liver. Beberapa waktu pak Dirman menanggung derita karena penyakitnya itu hingga kemudian wafat.

Tubuh Arifin kembali menggigil mengingat insiden satu bulan waktu lalu, saat dianya singgah ke rumah Pak Dirman. Sekarang ia baru mengerti jika lelaki yang bau busuk yang ditemuinya di dalam rumah bekas kepala SMA-nya itu nyatanya Hantu.

Sepulang dari rumah bekas guru kimianya itu, Arifin selekasnya berziarah ke makam Pak Dirman untuk mendoakan, supaya arwahnya diterima secara baik disamping Allah SWT.

No More Posts Available.

No more pages to load.