“Medianya Surya Paloh Tobat, Tak Akan Jadi Penjilat Penguasa dan Akan Kritisi Pemerintah”

oleh -331 views

JAKARTA, StasiunBerita – Media Indonesia group MetroTV milik Surya Paloh sudah
ancang–ancang tak lagi jadi penjilat penguasa. Walau Nasdem sudah
dikasih jatah 3 menteri, sepertinya mereka akan tetap kritis.
Hal ini sudah terlihat dengan gamblang lewat Editorial Media
Indonesia berjudul “Mengawal Kabinet” yang disiarkan MetroTV hari ini,
Kamis (24/10/2019).
“Sebaik apa pun pemerintah, suatu saat pasti berbuat salah. Karena
itu, ia butuh oposisi sebagai advocatus diaboli atau setan yang
menyelamatkan kita dengan gangguan terus–menerus.”
“Peran aktif rakyat untuk mengawal jalannya pemerintahan amat
diperlukan. Kabinet sudah terbentuk dan akan langsung bekerja. Mereka
butuh dukungan, termasuk dukungan dari oposisi baik di parlemen maupun
ekstraparlementer berupa gangguan–gangguan yang konstruktif.”
Mengawal Kabinet
KABINET Indonesia Maju pimpinan Presiden Joko Widodo resmi terbentuk.
Sebanyak 34 menteri plus empat pejabat setingkat menteri dilantik di
Istana Negara, Jakarta, kemarin, untuk membantu Presiden merealisasikan
janji–janji yang dia tebar saat kampanye Pilpres 2019.
Pelantikan Kabinet Indonesia Maju oleh Presiden Jokowi ialah awal
dari tugas panjang mereka untuk memajukan Indonesia. Tugas itu jelas
tidak mudah, sangat tidak mudah, untuk ditunaikan karena begitu banyak
tantangan dan rintangan yang siap menghadang.
Begitu dahsyat rakyat berharap kepada orang–orang terpilih itu.
Begitu besar kepercayaan yang diberikan Presiden sehingga sudah
semestinya seluruh anggota kabinet pantang menyia–nyiakannya. Tujuh
perintah Jokowi mulai jangan korupsi hingga harus bekerja
sungguh–sungguh ialah rambu–rambu yang wajib dipatuhi.
Pelantikan Kabinet Indonesia Maju oleh Presiden Jokowi bisa juga kita
posisikan sebagai akhir dari spekulasi tentang siapa saja yang bakal
mengisi pos–pos kementerian. Spekulasi itu mencuat akhir–akhir ini dan
kian menarik atensi karena keberadaan dua petinggi Partai Gerindra,
yakni Ketua Umum Prabowo Subianto dan Wakil Ketua Umum Edhy Prabowo.
Prabowo Subianto menjadi sorotan karena dia merupakan rival Jokowi di dua pilpres.

Kalau dia kemudian menjadi pembantu Jokowi sebagai menteri
pertahanan, hal itu pantas memantik banyak pertanyaan. Namun, karena
politik menganut prinsip impossible is nothing, tidak ada yang tidak
mungkin, kita harus menerima realitas yang ada.
Yang pasti, bergabungnya Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo dalam
kabinet serta–merta mengubah konstelasi politik. Di satu sisi, koalisi
partai politik pendukung pemerintahan Jokowi–Ma’ruf Amin mendapatkan
tambahan amunisi. Di sisi lain, barisan partai oposisi berkurang.
Setelah ditinggalkan Gerindra, praktis kini tinggal PKS, PAN, dan
Partai Demokrat yang menjadi oposan. Kekuatan mereka di parlemen pun
hanya 22,82%, yang boleh dibilang tak sebanding dengan kekuatan koalisi
pemerintah.
Perimbangan seperti itu memang bagus buat pemerintah. Dengan tambahan
dukungan dari Partai Gerindra, mereka dapat jauh lebih kuat dan lebih
cepat memutar roda pembangunan. Stabilitas politik juga bisa lebih
terjaga sebagai bekal berharga untuk melewati jalan terjal menuju
Indonesia maju.
Akan tetapi, kekuatan yang begitu timpang buruk buat demokrasi.
Demokrasi hanya akan sehat jika ada oposisi yang kuat. Sebaliknya,
demokrasi akan sakit, bahkan bisa sekarat, jika oposisi lemah, apalagi
jika sengaja dilemahkan.
Oposisi yang kuat kita butuhkan sebagai pengontrol agar pemerintah
tak terjerumus menjadi diktator. Oposisi yang tangguh kita perlukan
sebagai penyeimbang supaya pemerintah tak gemar menyimpang.
Sebaik apa pun pemerintah, suatu saat pasti berbuat salah. Karena
itu, ia butuh oposisi sebagai advocatus diaboli atau setan yang
menyelamatkan kita dengan gangguan terus–menerus.
Kita sadar, amat sadar, bahwa kekuatan oposisi saat ini terlalu
lemah, terlebih jika nantinya ada lagi partai yang menyeberang ke pusat
kekuasaan. Karena itu, kita perlu mengingatkan pemerintah untuk lebih
berhati–hati bekerja, bukan malah seenaknya melangkah.
Meski kekuatan mereka tak seberapa, kita juga meminta barisan oposan
di parlemen tetap lantang bersuara. Ingatkan terus agar pemerintah
konsisten berjalan di jalan yang lurus. Jadilah oposisi yang loyal
kepada kebaikan bangsa, bukan oposisi yang penting asal beda dengan
kebijakan negara.
Yang tak kalah penting, seiring dengan perubahan konstelasi kekuatan,
peran aktif rakyat untuk mengawal jalannya pemerintahan amat
diperlukan. Kabinet sudah terbentuk dan akan langsung bekerja. Mereka
butuh dukungan, termasuk dukungan dari oposisi baik di parlemen maupun
ekstraparlementer berupa gangguan–gangguan yang konstruktif. [**]

No More Posts Available.

No more pages to load.