Marak Impor Bikin Beras Bulog Numpuk hingga Terancam Busuk!

oleh -392 views
JAKARTA, StasiunBerita – Kebijakan pemerintah
untuk mengimpor beras sebanyak 2,25 juta ton pada tahun 2018 kembali menjadi
perbincangan di tahun 2019 ini. Impor tersebut menyebabkan melimpah ruahnya
cadangan beras pemerintah (CBP) dan menumpuk di gudang Bulog. Perlu diketahui,
dari kuota tersebut, Bulog merealisasikan impor beras sebanyak 1,8 juta ton di
2018.
Pada awal November
2019 saja, sebanyak 900.000 ton beras eks-impor itu masih tersisa di gudang
Bulog. Padahal, lebih dari empat bulan ‘mengendap’ di gudang, cadangan beras
tersebut sudah turun mutu.
Bahkan, pada 1
Desember 2019, Perum Bulog mengumumkan bahwa 20.000 ton CBP turun mutu dan
terancam busuk. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan masyarakat, bahkan muncul
sebuah tagar #TangkapEnggar di Twitter keesokan harinya. Tagar tersebut sempat
populer di laman Twitter Indonesia selama dua hari.
Cuitan yang
menggunakan tagar tersebut berisikan komentar warganet atas kebijakan impor
yang diberikan Menteri Perdagangan periode 2016-2019, Enggartiasto Lukita.
Kebijakan itu dinilai memberi andil terhadap 20.000 ton beras Bulog yang
terancam busuk.
Menanggapi hal itu,
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Tri Wahyudi menegaskan
bahwa kebijakan impor beras tahun lalu tak menjadi penyebab 20.000 ton beras
turun mutu.
“(Impor) nggak
ada pengaruh,” tegas Tri di kantornya, Jakarta, Selasa (3/12/2019).
Lantas, apa yang
menjadi penyebab beras Bulog itu terancam busuk?
1. Banjir Hingga
BPNT Jadi Penyebab 20.000 Ton Beras Bulog Terancam Busuk?
Tri Wahyudi
membeberkan penyebab dari macetnya penyaluran beras tersebut yang membuat beras
lama tersimpan dan terancam busuk.
Pertama, salah satu
lokasi gudang Bulog di suatu daerah terkena banjir. Bencana itu turut merusak
kualitas beras itu.
“Banyak faktor,
ada di satu daerah yang kena banjir, itu berpengaruh,” tutur Tri di
kantornya, Jakarta, Selasa (3/12/2019).
Kedua, pengalihan
program bantuan sosial (bansos) dari beras sejahtera (rastra) ke Bantuan Pangan
Non Tunai (BPNT).
“Tadi
pengalihan dari rastra ke BPNT itu pengaruh juga. Kan dari 2,3 juta ton
(penyaluran untuk bansos), sekarang jadi 300 ribu ton, kan banyak. Dan beras
itu kan barang mudah rusak. Coba taruh beras di rumah sebulan rusak tidak?
Rusak lah. Apalagi BPNT dari 2017 untuk 45 kota, itu kan pengaruh ya, di
antaranya,” jelas Tri.
Ketiga, jarangnya
rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian sejak pergantian menteri baru, sehingga sampai saat ini Bulog
belum menerima arahan dalam menyalurkan CBP.
“Belum (ada
penugasan lagi), tanya Pak Menteri yang baru saja,” ujar dia.
2. Gudang Penuh,
Beras Bulog Terancam Busuk
Direktur Utama Bulog
Budi Waseso (Buwas) menyebut gudang Bulog sudah hampir penuh. Namun beras-beras
yang disimpan terancam busuk karena belum disalurkan.
Menurut mantan
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu, Bulog kini terus menyerap beras dari
petani. Di sisi lain beras-beras itu tidak kunjung disalurkan, sehingga terus
mengendap di gudang Bulog.
“Kapasitas
gudang kita 2,6 juta ton, sekarang sudah mencapai 2,3 juta ton. Tinggal 300
ribu ton lagi penuh, tidak bisa menyerap lagi. Tinggal nunggu busuk karena
tidak disalurkan,” kata Buwas di kawasan persawahan RS UNS, Sukoharjo,
Jumat (21/6/2019).
Padahal, kata Buwas,
saat ini Bulog masih terus menyerap gabah dari petani. Setiap hari ada sekitar
10 ribu ton beras yang masuk ke gudang Bulog di berbagai daerah.
“Saya prediksi
hingga Juli-Agustus akhir bisa mencapai 3 juta ton kalau beras tidak kita
salurkan,” ujarnya kala itu.
3. 20.000 Ton Beras
Bulog Terancam Busuk Akhirnya Dilelang
Sejak 13 Desember
2019, Bulog telah resmi melelang 20.367 ton cadangan beras pemerintah (CBP)
yang turun mutu atau terancam busuk karena sudah disimpan lebih dari 4 bulan.
Lelang beras tersebut dimenangkan oleh PT Zona Eksekutif Linier yang
memproduksi lem furniture (mebel).
“Pemenang
lelang terbuka beras turun mutu adalah PT. Zona Eksekutif Linier, perusahaan
industri lem furniture,” kata Direktur Operasional dan Pelayanan Publik
Bulog, Tri Wahyudi Saleh kepada detikcom, Senin (23/12/2019).
Beras tersebut
dilelang dengan harga dasar Rp 23,75 miliar. Adapun nilai yang diajukan PT Zona
Eksekutif Linier sebesar Rp 23,8 miliar.
“Ada update
dong, itu kan harga minimal. Kemarin yang menang itu sekitar Rp 23,8
miliar,” ungkap Tri.
Tri memastikan,
beras tersebut akan diolah menjadi bahan dasar industri lem sesuai dengan izin
industri yang dipegang sang pemenang lelang.
“Kan izin
industrinya sudah jelas di bidang apa, dia industri lem furniture kan. Dan itu
bisa (diproduksi menjadi bahan baku industri lem mebel). Sudah kami konfirmasi,
sudah kami cek juga,” jelas Tri.
Selain itu, Bulog
juga bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Satgas
Pangan Mabes Polri, dan Intelkam Mabes Polri untuk mengawasi PT Zona Eksekutif
Linier dalam mengolah beras tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk
mengantisipasi aksi penggunaan beras untuk konsumsi baik pangan maupun pakan.
“Kami
mengundang juga dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Satgas Pangan
Mabes Polri, dan Intelkam Mabes Polri. Kami sudah sampaikan kepada peserta
bahwa beras ini kami awasi pengeluarannya. Satu butir pun kami awasi, dari
gudang Bulog sampai ke mana pun kami awasi. Jadi insyaallah tidak akan ada
kebocoran. Dan ini sudah dilarang untuk dikonsumsi baik pangan maupun
pakan,” terangnya.
Jika perusahaan
tersebut melanggar aturan yang sudah diberlakukan dalam lelang, maka keempat
instansi tersebut tak akan segan untuk menjatuhkan sanksi hukum.
“Ini hanya
boleh untuk industri. Nanti kalau dia melanggar ya sudah ada aturannya. Nanti
ada sanksinyalah. Ada larangan-larangan tidak boleh mengedarkan barang-barang
yang tidak boleh dikonsumsi, kan ada sanksinya. Detailnya kami belum tahu,
nanti kami akan koordinasi sanksi-sanksinya. Yang pasti sanksi hukum pasti
ada,” pungkas Tri.
4. Beras Busuk
Dilelang Murah, Bulog Minta Sri Mulyani Bayar Selisih Penjualan
Sebanyak 20.367 ton
CBP yang resmi dilelang Bulog ditawarkan dengan harga dasar Rp 23,75 miliar.
Menurut perhitungan detikcom, dari 20.000 ton beras tersebut dilelang dengan
harga Rp 1.165/kg. Padahal, sebelumnya Direktur Utama (Dirut) Bulog Budi Waseso
(Buwas) mengatakan bahwa pihaknya membayar Rp 8.100/kg ketika menyerap beras
tersebut.
Untuk itu, pihaknya
telah menyampaikan surat permintaan penggantian selisih hasil lelang kepada
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
“Per kg itu
kita sewaktu serap Rp 8.100. Persoalannya hanya satu, biaya selisih pengganti
ada di siapa? Nah sekarang sudah dijawab Menkeu. Menkeu akan mengalokasikan
sesuai hasil lelang laku berapa, selisih berapa, itu akan diganti oleh negara,”
papar Buwas usai menghadiri rapat koordinasi pembahasan tentang pangan di
kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (18/12/2019).
Masalahnya di
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) belum ada aturan untuk menganggarkan ganti rugi
tersebut. Saat ini Kemenkeu melalui Badan Kebijakan Fiskal (BKF) masih dalam
tahap mengkaji payung hukum tersebut. Itu menurutnya bakal memakan waktu.
Lebih lanjut, Sri
Mulyani merespons permintaan Perum Bulog untuk diberikan ganti rugi atas beras
20 ribu ton yang terancam di-disposal atau dibuang.
Dirinya mengatakan
akan membahas hal tersebut saat rapat nanti dengan Menteri Koordinator
Perekonomian Airlangga Hartarto. Dia belum mengetahui detail permintaan dari
Perum Bulog. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun belum bisa memberikan
keterangan lebih jauh.
“Nanti kita
lihat kalau sudah dirapatkan di Menko ya. Saya lihat semuanya,” kata Sri
Mulyani di kantornya, Jakarta Pusat, 29 November 2019.
5. Sedih! Gara-gara
Impor Beras, Bulog Berutang Rp 28 T
Perum Bulog
mencatatkan utang perusahaan sebesar Rp 28 triliun. Utang tersebut berasal dari
penugasan pemerintah yakni menyerap beras petani, atau pun impor beras dalam
mengisi CBP. Dalam hal ini, keuangan Bulog yang jadi jaminannya.
“Kita dapat
penugasan dari negara untuk impor beras contohnya, ini kan beras CBP, tapi yang
mengimpor dan membeli Bulog, uangnya pinjam, utangnya Bulog. Ini masalah besar,
karena nilainya triliunan dan bunganya komersial. Sedangkan CBP ini tidak bisa
kita jual belikan kecuali ada penugasan,” ungkap Buwas kata Buwas dalam
acara Ngopi BUMN, di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (1/11/2019).
Belum lagi bunga
pinjaman daru bank yang harus dibayar Bulog. Asisten Deputi Usaha Industri Agro
dan Farmasi Kementerian BUMN Agus Suharyono mengatakan, Bulog harus berhadapan
dengan bunga pinjaman Rp 10 miliar setiap harinya.
“Setiap bangun
pagi Pak Budi ini mikirin bunga. Bunga itu catatan kami hampir Rp 10 miliar,
satu hari!” kata Agus.
Tak lupa juga
operasional perusahaan dan 4.000 karyawan setiap harinya yang bisa menelan
biaya Rp 6 miliar/hari.
“Beliau (Buwas)
juga harus menyiapkan 4.000 karyawan, yang setiap hari operasional butuh Rp 6
miliar,” terang Agus.
Selain itu, dengan
stok yang melimpang, Bulog harus menghadapi penjualan yang seret kareja
berasnya tak terserap pasar. Sehingga pendapatan perusahan pun tersendat dan
terancam tak bisa bayar utang.
Buwas pun putar otak
untuk mengatasi seretnya penjualan beras tersebutn dengan melakukan sejumlah
inovasi salah satunya adalah menjual beras premium.
“Untuk
komersial juga harus bicara kualitas. Tidak bisa hanya kuantitas dan berharap
pada masyarakat. Tidak bisa, harus kita yang bergerak. Maka saya membuat
program. Dan saya membuat produk beras premium dari beberapa jenis beras
berkualitas termasuk kemasannya, mereknya. Nah terbangun inovasi-inovasi di
kalangan anggota saya,” tutur Buwas.
Inovasi lain yang
dilakukan Bulog adalah mengembangkan produk beras fortivikasi atau beras
bervitamin. Selain itu, Bulog juga membuat tepung dari bahan baku bekatul yakni
bulir beras, atau yang biasa dikenal dengan dedak.
“Ternyata ada
poduk kualitas yang dihasilkan dari beras, yaitu bekatul atau dedak. Itu dulu
untuk pakan ayam dan ikan. Tapi orang asing yang mengerti kualitas pangan
mereka mengkonsumsi itu dedek. Lihat saja di Ranch Market harga bekatul itu
mahal. Timbul pemikiran saya kita memproduksi beras kok itu kita abaikan,
padahal punya nilai ekonomis dan jelas nilai vitamin yang tinggi karena itu ada
di kulit ari-nya beras. Akhirnya saya bilang Direksi coba pikir ini akan jadi
produk kita. Tapi tidak baku, bagaimana kaau kita bikin jadi tepung. (detikcom)

No More Posts Available.

No more pages to load.