‘Liberalisasi Agama dalam Proyek Radikalisme’

oleh -1.081 views
Ilustrasi

Oleh: Novita Aryani M. Noer*

KOLOM PEMBACA, StasiunBerita – Tidak hanya liberalisasi di sektor ekonomi, Barat pun melakukan
liberalisasi agama. Islam hendak diliberalkan dalam seluruh aspek
kehidupan. Baik dalam kepemilikan, keyakinan, berperilaku, dan
pemikirannya. Tujuannya tidak lain adalah tetap tegaknya ideologi
Kapitalisme sekuler-liberal di Dunia Islam dan langgengnya penjajahan
mereka (neo-imperialisme) di tangan rezim berkuasa.

Maka menjadi suatu hal yang penting -bagi Barat- bagaimana menjauhkan
umat dari Islam yang sebenarnya (Islam kaffah). Barat menginginkan agar
umat memahami Islam dengan metode berpikir Barat dan menjadikan tolak
ukur, pemahaman, dan pemikiran kaum Muslim menyimpang, rancu, dan rusak.

Barat kemudian menciptakan berbagai pemikiran palsu dan memanipulasi
wajah Islam dan pengemban dakwahnya sedemikian rupa sehingga terlihat
hitam, kotor, dan jahat. Terlebih gelombang kesadaran umat dalam
ber-islam pada kurun dua dekade terakhir kian menguat.

Proyek Barat
Barat dan rezim-rezim bonekanya di negeri-negeri Muslim -termasuk rezim
negeri ini- berada dalam ketakutan luar biasa terhadap kembalinya Islam
sebagai negara adidaya untuk kedua kalinya. Sebab, pasca runtuhnya
Komunisme, satu-satunya ideologi yang menjadi ancaman paling menakutkan
bagi Dunia Barat adalah Islam.

Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, pernah menyatakan ideologi
Islam sebagai ‘ideologi setan’ (evil ideology). Dalam pidatonya pada
Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, Blair menjelaskan
ciri ideologi setan, yaitu menolak legitimasi Israel, memiliki pemikiran
bahwa syariah adalah dasar hukum Islam, dan kaum Muslim harus menjadi
satu kesatuan dalam naungan Khilafah serta tidak mengadopsi nilai-nilai
liberal dari Barat.

Dengan menggunakan corong penguasa dan lidah ulama-ulama ”penjilat”,
lantas dimunculkanlah narasi tumpul radikalisme dan Islam “radikal”.
Kemudian menunjuk berbagai gerakan Islam yang menuntut kembalinya sistem
Islam-khilafah, yang memiliki landasan yang sahih dan terbukti mampu
menyelesaikan berbagai macam masalah manusia berabad lamanya, difitnah
sebagai kaum “radikal”, takfiri, sesat, dan pengadu domba. Meski rezim
mengelak, di belakang narasi perang terhadap radikalisme tidak bisa
dibantah bahwa yang dituju adalah Islam dan umatnya.

Sebut saja bagaimana Menko Polhukam Mahfud MD menuding rumah Allah
sebagai tempat adu domba. Sehingga meminta masjid-masjid milik
pemerintah untuk menyiarkan pesan-pesan damai. Bukan ceramah-ceramah adu
domba dan permusuhan. Tidak boleh bersifat takfiri, menganggap orang
lain yang tidak sepakat sebagai musuh, adalah kafir.

Menurutnya pesan agama paling pokok itu adalah membangun kedamaian di
hati, membangun persaudaraan sesama umat manusia. Ditambah pula apa yang
dilontarkan oleh Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi yang menyebut
ajaran Islam radikal sebagai Islam sesat.

Jika kita mau kritis melihat, sebenarnya apa yang dituduhkan rezim
tersebut kepada Islam dan umat ini hanyalah upaya “lempar batu sembunyi
tangan”. Artinya, tuduhan-tuduhan yang dilontarkan tersebut sejatinya
lebih menggambarkan sifat rezim itu sendiri. Menunjuk hidungnya sendiri.
Lisan mereka jauh dari menyejukkan umat di tengah kegalauan kebijakan
yang gagal membuat rakyat dan negeri ini sejahtera.

Liberalisasi Islam
Liberalisasi terhadap agama (Islam) menjadi derivat dari proyek
liberalisasi secara umum. Agama diprivatisasi dan aturannya direduksi
sebatas nasihat dan ritual an sich.

Terlihat bagaimana pemerintah menuntut masjid menyiarkan pesan-pesan
damai, tidak menyiarkan ceramah-ceramah adu domba dan permusuhan. Karena
menurut rezim pesan agama paling pokok adalah membangun kedamaian di
hati, membangun persaudaraan sesama umat manusia.

Ini memperlihatkan sikap paranoid penguasa terhadap gerakan dakwah Islam
dan para ulamanya yang lurus. Tujuannya adalah pengerdilan Islam,
menghalangi dakwah Islam dan amar makruf nahi mungkar serta menghambat
sikap kritis ulama terhadap rezim dengan segala kebijakannya yang telah
menyengsarakan rakyat.

Lebih dari itu, keinginan untuk melenyapkan klaim kebenaran yang
dituding dapat memicu sikap radikal dan konflik horisontal. Karena
konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama akan tersingkirkan
jika tiap-tiap agama -yaitu Islam- tidak lagi menganggap bahwa agamanya
yang paling benar. Penerapan syariat Islam akan dianggap intoleren dan
mengekang kebebasan individu masyarakat dan akan merusak persaudaraan
antar umat beragama.

Padahal faktanya, bukan Islam yang akan memecah belah bangsa ini. Namun,
sistem hidup sekuler liberal yang diadopsi oleh negara inilah yang
telah menjadi segala biang keruwetan yang tak berujung dan tengah
membawa kehancuran bagi bangsa ini.

Sementara jargon-jargon ‘Islam agama damai dan sejuk’ sejatinya adalah
pemikiran-pemikiran liberal berkedok Islam yang ditujukan untuk
mematikan ruh jihad dan ajarannya serta mengeliminasi istilah sakral
kafir menjadi non-Muslim atau muwathinun (warga negara).

Begitu pula istilah Islam rahmatan lil ‘alamin yang ditafsirkan dengan
makna menerima kebenaran segala keragaman agama, budaya, dan politik.
Hasil dari liberalisasi Islam ini tumbuhnya paham pluralisme dan
multikulturalisme. Padahal, keragaman agama bukan sebuah masalah bagi
Islam. Namun, mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran agama lain
-dengan dalih toleransi- adalah sebuah kemungkaran.

Sebagaimana yang dilontarkan oleh Menko Polhukam Mahfud MD di acara ILC
tvOne, Selasa (29/10/2019) lalu, bicara tentang radikalisme. Namun,
salah satu yang disasar dan dipersoalkan adalah ajaran Islam tentang
mendidik anak sejak dini agar paham batasan pergaulan antara laki-laki
dan perempuan. Kemudian menuding kelompok radikal telah menyebarkan
virus-virus jahat kepada anak-anak sekolah sehingga perlu dilakukan
deradikalisasi.

Inilah yang diinginkan Barat. Umat Islam diasingkan dari agamanya. Dan
mengambil cara hidup Barat yang liberal sebagai “kemajuan”, “modern”,
dan “kekinian”. Sebaliknya, perilaku dan didikan islami yang merupakan
bagian dari ajaran Islam seperti dalam berpakaian dan pergaulan justru
dianggap kolot.

Liberalisme telah menjadikan Islam tidak lagi sakral sebagai agama.
Kebenaran Islam menjadi relatif. Bahkan ayat-ayat al-Quran perlu digugat
dan direvisi agar sejalan dengan keinginan hawa nafsu mereka. Hukum
bisa berubah-ubah sesuai waktu dan tempat. Seolah-olah hukum Allah SWT
yang diturunkan untuk manusia dapat ditinjau dengan dalih perubahan
waktu dan tempat.

Hal ini sangat kontradiktif dengan karakter kesempurnaan syariat Islam.
Sebab, al-Quran dan ajaran Islam itu Allah turunkan untuk mengatur
kehidupan umat manusia sepanjang zaman, bersifat tetap dan final. Dalam
arti tetap aktual dan relevan untuk setiap waktu dan tempat. Inilah yang
diinginkan Barat. Agar umat Islam melikuidasi ajaran agamanya sendiri
atau mengkompromikannya dengan ajaran dan pemikiran di luar Islam.

Islam Ideologi Istimewa
Liberalisme sampai kapanpun tidak akan dapat menyatu dan berkesesuaian
dengan Islam. Islam adalah agama yang berbeda dengan agama-agama
lainnya. Islam adalah agama terakhir dan penghapus agama samawi
sebelumnya. Allah SWT. telah menjamin pemeliharaan Islam sebagaimana ia
diturunkan sampai Hari Kiamat nanti.

Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”. (QS al- Hijr [15]: 9)

Keunikan lainnya, Islam adalah suatu ideologi yang menyeluruh dan
sempurna. Ideologi Islam didasarkan pada akidah yang dibangun atas dasar
akal yang kemudian melahirkan peraturan hidup yang menyeluruh untuk
mengatasi segala problem kehidupan manusia sampai Hari Kiamat. Tidak ada
kesan bahwa Islam itu lemah dalam memberikan penjelasan hukum syariat
untuk problem apa pun yang akan dihadapi manusia.

Allah SWT. telah berfirman:
“Kami telah menurunkan kepadamu Al- Kitab (al-Quran) sebagai penjelas segala sesuatu”. (QS an-Nahl 16: 89)

Jelas, narasi radikalisme yang dilekatkan pada Islam dan gerakan-gerakan
Islam, nyata adalah permusuhan terhadap Islam, yang atas izin Allah
akan segera menuai kegagalannya.

Allah SWT. berfirman:
“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta
terhadap Allah sedangkan dia diajak pada agama Islam? Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Mereka hendak memadamkan
cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah
tetap menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir
membencinya”.
(QS ash-Shaff [61]: 7-8). []

*) Direktur Ideology Battle Forum

No More Posts Available.

No more pages to load.