Jenderal Iran Dibunuh AS, Rakyat Indonesia Harus Siap-siap Subsidi BBM Dicabut!

oleh -367 views
Ilust/istimewa
JAKARTA, StasiunBerita – Serangan
udara yang dilakukan Amerika Serikat (AS) ke Bandara Internasional Baghdad pada
Jumat pagi (3/1/2020) waktu setempat, bakal mempertegang hubungan antara AS, Iran,
dan Irak.
Pasalnya,
serangan itu menewaskan Komandan Pasukan Al Quds Garda Revolusi Iran, Jenderal
Qassem Soleimani, dan wakil komandan milisi Irak yang dikenal sebagai Pasukan
Mobilisasi Rakyat, Abu Mahdi al-Muhandis.
Bukan
cuma ketegangan politik yang akan terjadi karena tragedi ini. Tetapi, juga
ketegangan ekonomi dunia.
Pengamat
ekonomi politik dari Universitas Airlangga Ichsanudin Noorsy menilai, serangan
AS ke Iran bakal memperkeruh iklim ekonomi global yang sudah tidak menentu
akibat perang dagang antara AS dengan China.
“Ya
akan meningkatkan tingkat ketidakpastian ekonomi global. Jika Iran melawan,
Timur Tengah tegang,” ucap Ichsan saat dihubungi Kantor Berita Politik
RMOL, Jumat (3/1/2020).
Tak
berhenti di situ, efek dari tingkah laku AS ini juga bakal merunut ke lonjakan
harga minyak dunia yang mungkin bisa melambung tinggi. Sebab, tidak lama
setelah serangan itu dilaporkan terjadi, harga minyak dunia naik 2 dolar AS
menjadi 63,18 dolar AS per barel.
Ditambah,
perlawanan Iran yang memangkas ekspor minyak Iran menjadi 200 miliar dolar AS,
yang merupakan akibat dari AS yang menjatuhkan sanksi-sanksi ke industri minyak
Iran.
Menurut
Ichsan, Indonesia juga bakal terdampak dari serangan AS ke Iran hari ini. Di
mana asumsi harga minyak dunia dalam APBN 2020 dipatok sebesar 63 dolar AS per
barel. Dampak paling nyatanya adalah lonjakan harga BBM hingga pencabutan
subsidi.
“Subsidi
dicabut karena memang rezim neolib (neoliberalisme). Beban rakyat secara
optimal untuk optimalnya kenikmatan pemodal finansial,” kata Ichsan.
Kebijakan
itu, diprediksi Ichsan bisa saja terjadi. Karena pemerintahan saat ini bisa
diibaratkan seperti dua sisi mata uang koin yang berbeda. Kebijakan yang
diambil tidak sesuai dengan jargon politik Kabinet Presiden Joko Widodo
“Indonesia Maju”.
“Karena
Indonesia konsisten menerapkan kebijakan mengoptimalkan kenikmatan pemodal
(investasi asing dan utang luar negeri),” tegasnya.
Oleh
karena itu, Ichsan berkesimpulan bahwa revisi harga BBM bakal dilakukan
pemerintah, dalam hal ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Rakyat harus
bersiap-siap karena pencabutan subsidi hanya tinggal menunggu waktu saja.
“Direvisi.
Tapi malu dia (Sri Mulyani) merevisi dalam waktu dekat,” pungkas Ichsan. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.