Janjikan Keselamatan Akhirat, Ajaran Sesat Puang La’lang Jual Kartu Surga Rp 50 Ribu

oleh -223 views

Janjikan
Keselamatan Akhirat, Ajaran Sesat Puang La’lang Jual Kartu Surga Rp50 Ribu

GOWA-SULSEL, StasiunBerita – Kepolisian Resor Gowa, Sulawesi
Selatan, menangkap seorang pemimpin tarekat Ta’jul Khalwatiyah Syech
Yusuf bernama Andi Malakuti alias Puang La’lang. Warga Dusun Timbuseng,
Kecamatan Patallassang.

Kepala Polres Gowa AKBP Shinto Silitonga menyatakan Andi Malakuti atau
yang biasa disebut Maha Guru ditangkap atas dugaan penistaan agama serta
penipuan, penggelapan, dan pencucian uang.

Sebelum menetapkan tersangka, polisi telah memeriksa 42 saksi dan dua
ahli agama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulsel dan
Kemenag Gowa.

“Pelaku diduga menyebarkan ajaran Islam secara sesat sesat kepada
pengikutnya. Andi Malakuti alias Maha Guru alias Puang La’lang disebut
menjanjikan keselamatan dunia dan akhirat bagi para pengikutnya dengan
memberikan “wipiq” atau kartu surga,” ujar Shinto Siitonga pada
konferensi pers di Sungguminasa, Senin (4/11/2019).

Polisi menemukan sejumlah perbuatan Maha Guru yang dianggap sesat. Di
antaranya, mewajibkan pengikut membayar kartu surga seharga Rp10 ribu
hingga Rp50 ribu. 
Polres Gowa menangkap Puang La’lang berdasarkan laporan masyarakat yang
diterima pada September 2019. Dari penyelidikan, polisi menghimpun
informasi bahwa tersangka diduga sudah menyebarkan ajaran sesat sejak
lama. Dia juga diketahui mengangkat dirinya sebagai Maha Guru atau
rasul, sejak tahun 1999.

Pengikut juga memungut dana zakat yang bernilai Rp5 ribu per kilogram,
tergantung berat badan masing-masing pengikut. Ada pula kewajiban
pengikut menyetor 2,5 persen penghasilannya kepada Maha Guru.

Shinto mengatakan, Maha Guru juga memodifikasi sejumlah ajaran agama
Islam untuk diajarkan kepada masyarakat. Misalnya, mengangkat diri
sebagai rasul; mengakui adanya Allah pencipta, Allah Mama, Allah Bapa,
Allah Iblis, Allah Jin, Allah Syaitan, Allah Nafsu; menafsirkan ayat
suci Alquran sesuai kehendak; meyakini adanya kitab suci tersendiri
(Kitabullah), dan lain-lain.

“Selain itu, Maha Guru mengaku dapat memperpanjang umur pengikutnya,
bertambah 15 tahun. Kitabullah yang dimaksud, menurutnya adalah yang
diajarkan oleh Nabi Muhammad SAR kepada Syekh Syusuf di surga, kemudian
ditemukan di peti jenazah Syekh Yusuf,” ucap Kapolres.

Kapolres menerangkan, tersangka dijerat dengan sejumlah dugaan
pelanggaran hukum. Masing-masing, Pasal 156 KUHP tentang penistaan
agama; Pasal 378 KUHP tentang penipuan; Pasal 372 KUHP tentang
penggelapan; Pasal 3,4, dan 5 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang
pencucian uang.

Tersangka juga diduga melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946
tentang Pencatatan Nikah. Itu karena Maha Guru dilaporkan menikahkan
sejumlah pengikutnya tanpa wali nikah. Atas berbagai dugaan pelanggaran,
tersangka terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.

“Sudah ada warga yang melapor dan resah karena ada jemaahnya yang telah
dinikahkan tanpa wali dan tanpa dicatat Kantor Urusan Agama. Akibatnya,
warga tersebut tidak mendapat akte nikah dan akte kelahiran,” Kapolres
menerangkan.

Seiring penetapan tersangka, penyidik Polres Gowa menyita berbagai
barang bukti milik Puang La’lang. Salah satu di antaranya, sebuah tasbih
yang digunakan tersangka membaiat jemaahnya.
“Pengakuan pelaku, bahwa tasbih tersebut langsung ada di hadapannya,” ujar Kapolres.

Bukti lain berupa 317 lembar kartu surga, 80 lembar kartu pelaris, uang
tunai Rp50 juta, puluhan buku kitab berbagai jenis, keris, dan
lain-lain. Pada penyelidikan sementara, polisi menduga tersangka
menyebarkan ajaran sesat dengan modus mengambil keuntungan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gowa sejatinya telah
mengeluarkan fatwa sejak tahun 2016 tentang larangan menyebarkan aliran
keagamaan dan kepercayaan Tarekat Ta’jul Khalwatiyah Syech Yusuf.
Pemerintah Kabupaten Gowa, per 17 September 2019, juga telah
mengeluarkan surat rekomendasi pembubaran tarket tersebut.

Menurut situs resmi Polres Gowa, surat fatwa MUI juga telah disampaikan
langsung kepada Puang La’lang. Surat diserahkan pada rapat koordinasi
pada 12 Juni 2019. Rapat disaksikan sejumlah tokoh, di antaranya Sekda
Gowa Muchlis, Kapolres AKBP Shinto, Ketua MUI setempat KH Abubakar Paka,
Kepala Kemenag H Adliah, dan para pemuka agama.

Pada kesempatan itu, Puang La’lang menyatakan kesediannya meninggalkan tarekat dan mengikuti rekomendasi Pemkab Gowa.
“Saya bersedia mengikuti pemerintah ke jalan yang benar,” katanya saat itu. [jogja.idntimes.com]

No More Posts Available.

No more pages to load.